حَدَّثَنَا أَحْمَدُ بْنُ مُحَمَّدِ بْنِ ثَابِتٍ، حَدَّثَنِي عَلِيُّ بْنُ حُسَيْنٍ، عَنْ أَبِيهِ، عَنْ يَزِيدَ النَّحْوِيِّ، عَنْ عِكْرِمَةَ، عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ، رضى الله عنهما قَالَ‏‏{‏ وَالَّذِينَ عَقَدَتْ أَيْمَانُكُمْ فَآتُوهُمْ نَصِيبَهُمْ ‏}‏ كَانَ الرَّجُلُ يُحَالِفُ الرَّجُلَ لَيْسَ بَيْنَهُمَا نَسَبٌ فَيَرِثُ أَحَدُهُمَا الآخَرَ فَنَسَخَ ذَلِكَ الأَنْفَالُ فَقَالَ تَعَالَى ‏‏{‏ وَأُولُو الأَرْحَامِ بَعْضُهُمْ أَوْلَى بِبَعْضٍ ‏}‏
Terjemahan

Mengenai firman Allah:

Dan (kepada) orang-orang yang kamu telah bersumpah setia dengan mereka, berikanlah kepada mereka bagian mereka.
Dahulu seseorang membuat perjanjian sumpah setia dengan orang lain tanpa ada hubungan kekerabatan di antara keduanya, sehingga salah seorang dari mereka dapat mewarisi yang lainnya. Lalu hal itu dinasakh (dihapuskan hukumnya) oleh surah Al-Anfal, di mana Allah Ta'ala berfirman:
Dan orang-orang yang mempunyai hubungan darah sebagiannya lebih berhak terhadap sesamanya
.