Seorang Yahudi berkata kepada 'Umar, “Wahai pemimpin orang-orang mukmin, jika ayat ini: 'Hari ini Aku telah menyempurnakan agamamu untukmu, menyelesaikan nikmat-Ku kepadamu, dan telah memilih untukmu Islam sebagai agamamu. '(5.3) telah diturunkan kepada kami, niscaya kami menjadikan hari itu sebagai hari 'Id (hari raya).” Umar berkata, “Aku tahu pasti pada hari apa ayat ini diturunkan; itu diturunkan pada hari 'Arafat, pada hari Jumat.”
Konteks dan Signifikansi
Narasi ini dari Sahih al-Bukhari 7268 menunjukkan kebijaksanaan mendalam dari Para Sahabat dan penyempurnaan nikmat ilahi atas umat Muslim. Ayat yang disebutkan (Surah Al-Ma'idah 5:3) mewakili finalisasi legislasi Islam selama Haji Perpisahan.
Penyempurnaan Ilahi
Kesempurnaan agama yang disebutkan dalam ayat menandakan bahwa Allah menyempurnakan syariah melalui Utusan terakhir-Nya. Tidak ada legislasi baru yang akan mengikuti wahyu ini, menjadikannya panduan komprehensif dan abadi bagi umat manusia hingga Hari Kiamat.
Penyempurnaan nikmat ilahi merujuk pada kelengkapan agama dan perlindungan duniawi yang Allah berikan kepada orang-orang beriman, menetapkan Islam sebagai cara hidup yang lengkap.
Pengetahuan Pasti Umar
Pengetahuan tepat Umar ibn al-Khattab tentang kapan ayat ini diwahyukan menunjukkan pelestarian detail wahyu yang teliti oleh Para Sahabat. Kepastiannya bahwa itu diwahyukan pada hari Jumat selama Arafat menekankan signifikansi momen-momen berkah ini dalam sejarah Islam.
Kebijaksanaan dalam Tidak Menetapkan Hari Raya Tambahan
Umat Muslim tidak menjadikan hari ini sebagai hari raya tambahan meskipun signifikansinya besar karena Nabi hanya menetapkan dua hari raya. Ini mengajarkan kita pentingnya mematuhi Sunnah secara ketat dan tidak memperkenalkan inovasi, bahkan untuk alasan yang tampaknya baik.
Pengakuan Yahudi terhadap Kebenaran
Pengakuan orang Yahudi menunjukkan bagaimana bahkan orang-orang dari agama lain mengakui signifikansi ayat ini, berfungsi sebagai kesaksian eksternal terhadap kebenaran Islam dan finalitas pesan Nabi Muhammad.