Rasulullah SAW bersabda, “Hari kiamat tidak akan ditetapkan sampai para pengikutku menyalin perbuatan bangsa-bangsa sebelumnya dan mengikuti mereka dengan sangat dekat, rentang demi rentang, dan hasta demi hasta (yaitu, inci demi inci).” ﷺ Dikatakan, “Wahai Rasulullah (ﷺ)! Apakah yang Anda maksud dengan (bangsa-bangsa) Persia dan Bizantium?” Rasulullah SAW berkata, “Siapakah itu selain mereka?”
Berpegang Teguh pada Al-Qur'an dan Sunnah
Sahih al-Bukhari 7319
Teks Hadits
Nabi (ﷺ) bersabda, "Hari Kiamat tidak akan tiba sampai pengikutku meniru perbuatan bangsa-bangsa sebelumnya dan mengikuti mereka dengan sangat dekat, sejengkal demi sejengkal, dan sehasta demi sehasta (yaitu, inci demi inci)." Dikatakan, "Wahai Rasulullah (ﷺ)! Apakah yang Anda maksud dengan (bangsa-bangsa) itu adalah Persia dan Bizantium?" Nabi bersabda, "Siapa lagi selain mereka?"
Komentar tentang Hadits
Hadits yang mendalam ini berfungsi sebagai peringatan serius terhadap peniruan buta peradaban non-Muslim. Frasa "sejengkal demi sejengkal, sehasta demi sehasta" menunjukkan peniruan yang teliti dan lengkap dalam hal-hal kecil maupun besar.
Spesifikasi Persia dan Bizantium merujuk pada peradaban dominan pada era itu, mewakili kekuatan duniawi dan pengaruh budaya. Di zaman kita, ini berlaku untuk meniru peradaban Barat dan Timur dalam praktik keagamaan, sosial, dan moral mereka yang bertentangan dengan ajaran Islam.
Para ulama menjelaskan bahwa peniruan ini terjadi dalam hal kekafiran, inovasi dalam agama, kerusakan moral, dan adat duniawi yang bertentangan dengan prinsip-prinsip Islam. Nubuat ini telah nyata terjadi karena umat Islam telah meninggalkan praktik Islam yang khas demi tradisi asing.
Hadits ini menekankan pentingnya mempertahankan identitas Islam dan berpegang pada Al-Qur'an dan Sunnah sebagai sumber utama petunjuk, memperingatkan bahwa peniruan seperti itu termasuk di antara tanda-tanda kecil Hari Kiamat.
Wawasan Ilmiah
Ibn Hajar al-Asqalani berkomentar bahwa peniruan ini mengacu pada mengikuti non-Muslim dalam karakteristik khusus dan praktik tercela mereka, bukan dalam hal-hal duniawi yang bermanfaat yang tidak bertentangan dengan Syariah.
Al-Qurtubi menjelaskan bahwa ukuran "sejengkal dan sehasta" menunjukkan kelengkapan peniruan, tidak meninggalkan apa pun dari cara mereka kecuali umat Islam mengadopsinya.
Hadits ini berfungsi sebagai pengingat abadi bagi umat Islam untuk mengevaluasi secara kritis pengaruh asing dan mengukur semua praktik terhadap standar Al-Qur'an dan Sunnah yang otentik.