Setelah para pencemar memberikan pernyataan palsu terhadapnya, Rasulullah (ﷺ) memanggil `Ali bin Abi Thalib dan Usama bin Zaid ketika Inspirasi Ilahi ditunda. Dia ingin bertanya kepada mereka dan berkonsultasi dengan mereka tentang pertanyaan menceraikanku. Usama memberikan buktinya yang didasarkan pada apa yang dia ketahui tentang ketidakbersalahan saya, tetapi Ali berkata, “Allah tidak membatasi Anda dan ada banyak wanita selain dia. Selanjutnya Anda dapat bertanya kepada gadis budak yang akan mengatakan yang sebenarnya.” Maka Nabi (ﷺ) bertanya kepada Barira (gadis salep saya), “Apakah Anda melihat sesuatu yang dapat membangkitkan kecurigaan Anda?” Dia menjawab, “Saya tidak melihat apa-apa selain bahwa dia adalah seorang gadis kecil yang tidur, meninggalkan adonan keluarganya (tidak dijaga) sehingga kambing domestik datang dan memakannya.” Kemudian Nabi (ﷺ) berdiri di mimbar dan berkata, “Wahai Muslim! Siapa yang akan membantu saya melawan pria yang telah menyakiti saya dengan memfitnah istri saya? Demi Allah, aku tidak tahu apa-apa tentang keluargaku kecuali kebaikan. Narator menambahkan: Kemudian Nabi (ﷺ) menyebutkan bahwa 'Aisha tidak bersalah. (Lihat Hadis No. 274, Jilid 6)
Konteks dan Latar Belakang
Narasi ini dari Sahih al-Bukhari 7369 menceritakan insiden Ifk (fitnah) terhadap Aisyah (رضي الله عنها), menunjukkan pendekatan Nabi yang teliti terhadap keadilan bahkan ketika rumah tangganya sendiri terlibat.
Komentar Ilmiah
Konsultasi Nabi dengan Ali dan Usama merupakan contoh kepemimpinan Islam - mencari nasihat bahkan dalam urusan pribadi. Pembelaan langsung Usama mencerminkan pengetahuan mendalamnya tentang karakter Aisyah.
Pendekatan hati-hati Ali menunjukkan kebijaksanaan dalam menyelidiki tuduhan serius secara menyeluruh, sambil tetap menghormati posisi Nabi. Sarannya untuk mempertanyakan budak perempuan Barira menunjukkan prinsip Islam dalam mencari bukti.
Pelajaran Hukum dan Spiritual
Wahyu yang tertunda mengajarkan kita kesabaran selama cobaan dan bahwa hikmah Ilahi beroperasi sesuai jadwalnya sendiri. Pembelaan publik Nabi terhadap istrinya menetapkan prinsip praduga tak bersalah sampai terbukti bersalah.
Kesaksian Barira menyoroti nilai Islam dalam mempertimbangkan kesaksian dari semua sumber yang dapat dipercaya, terlepas dari status sosial. Insiden ini pada akhirnya memperkuat pemahaman masyarakat tentang keadilan dan hukum tuduhan palsu.
Aplikasi Praktis
Muslim harus meneladani metode Nabi dalam konsultasi (syura), penyelidikan menyeluruh, dan klarifikasi publik ketika reputasi dipertaruhkan. Insiden ini tetap menjadi pelajaran abadi dalam menangani rumor dan mempertahankan kehormatan keluarga melalui saluran yang tepat.