Rasulullah (ﷺ) berbicara kepada manusia, dan setelah memuji dan memuliakan Allah, dia berkata, “Apa yang Anda sarankan kepada saya tentang orang-orang yang melecehkan istri saya? Saya tidak pernah tahu sesuatu yang buruk tentang dia.” Sub-narator, `Urwa, berkata: Ketika `Aisha diberitahu tentang fitnah, dia berkata, “Wahai Rasul Allah! Maukah Anda mengizinkan saya pergi ke rumah orang tua saya?” Dia mengizinkannya dan mengirim seorang budak bersamanya. Seorang pria Ansari berkata, “Subhanaka! Tidak tepat bagi kita untuk membicarakan hal ini. Subhanaka! Ini adalah kebohongan yang besar!”
Insiden Fitnah (Hadis al-Ifk)
Riwayat ini dari Sahih al-Bukhari 7370 menceritakan episode menyakitkan di mana tuduhan palsu dibuat terhadap Ibu Orang-Orang Beriman yang mulia, 'Aisyah (semoga Allah meridainya). Nabi Muhammad (ﷺ) menunjukkan perilaku teladan dengan secara terbuka menangani fitnah ini sambil mempertahankan kepercayaan pada karakter istrinya.
Komentar Ilmiah tentang Tanggapan Nabi
Pendekatan Nabi menunjukkan metode Islam dalam menangani tuduhan: ia pertama-tama memuji Allah, kemudian berkonsultasi dengan komunitas, dan mempertahankan keadilan tanpa terburu-buru mengambil kesimpulan. Pernyataannya "Saya tidak pernah mengetahui hal buruk tentangnya" mencerminkan baik pengetahuan pribadinya tentang karakternya maupun kepercayaannya padanya.
Tanggapan langsung pria Ansari "Subhanaka! Ini adalah kebohongan besar!" menggambarkan reaksi yang tepat dari orang-orang beriman ketika mendengar fitnah terhadap orang-orang saleh - untuk segera menolak kepalsuan dan menegaskan kesempurnaan Allah di atas fabrikasi seperti itu.
Pelajaran dalam Berpegang Teguh pada Al-Qur'an dan Sunnah
Insiden ini mengajarkan kita untuk menghindari menyebarkan rumor, memberikan keraguan kepada sesama Muslim, dan membela kehormatan orang-orang beriman yang dituduh secara tidak adil. Wahyu Al-Qur'an berikutnya (Surah Nur, 24:11-20) sepenuhnya membebaskan 'Aisyah, menunjukkan bagaimana Allah melindungi orang yang tidak bersalah dan mengutuk fitnah.
Kesabaran Nabi selama cobaan ini dan ketergantungannya pada bimbingan ilahi daripada kecurigaan manusia memberikan model abadi untuk menangani krisis pribadi dan komunal sambil berpegang teguh pada prinsip-prinsip Islam.