Bab : Keunggulan Adzan
Rasulullah ﷺ bersabda: “Apabila adzan dikumandangkan, setan pergi melarikan diri sambil buang angin agar tidak mendengar adzan. Apabila adzan selesai, dia kembali. Apabila iqamah dikumandangkan, dia lari lagi, dan apabila selesai, dia kembali lagi, hingga ia membisikkan antara seseorang dengan hatinya: Ingatlah ini, ingatlah itu, yang sebelumnya tidak ia ingat, sehingga seseorang itu tidak mengetahui berapa rakaat ia telah salat.”
Bab : Berbicara selama Adzan
Suatu hari di hari hujan yang berlumpur, Ibnu ʿAbbās berkhutbah di hadapan kami. Ketika mu'adzdzin mengumandangkan adzan dan mengucapkan, “Hayya ʿala-s-salah (marilah shalat),” Ibnu ʿAbbās memerintahkannya untuk mengucapkan “Shalatlah di rumah kalian.” Orang-orang mulai saling memandang (dengan heran). Ibnu ʿAbbās berkata, “Itu dilakukan oleh seseorang yang lebih baik dariku (yaitu Nabi ﷺ atau mu'adzdzinnya), dan itu adalah keringanan.”
Bab : Adzan diucapkan oleh orang buta (diperbolehkan) ketika ada orang yang memberitahukannya tentang waktu Salat (shalat)
Telah menceritakan kepada kami Abdullah bin Maslamah, dari Malik, dari Ibnu Syihab, dari Salim bin Abdullah, dari ayahnya, bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, "Sesungguhnya Bilal mengumandangkan azan di malam hari, maka makan dan minumlah kalian hingga Ibnu Ummi Maktum mengumandangkan azan." Kemudian beliau bersabda, "Dan dia adalah seorang lelaki buta yang tidak mengumandangkan azan sampai dikatakan kepadanya, 'Subuh telah tiba, subuh telah tiba.'"
Bab : Adzan sebelum Al-Fajr (fajar)
Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, 'Adzan Bilal tidak boleh menghalangi salah seorang dari kalian untuk sahur, karena dia mengumandangkan adzan di malam hari, agar orang yang salat malam (Tahajud) di antara kalian segera kembali dan orang yang tidur terbangun. Bukan berarti fajar atau subuh telah tiba.' Kemudian beliau berisyarat dengan jari-jarinya, mengangkatnya ke atas dan menurunkannya ke bawah, hingga beliau bersabda, 'Begitulah.' Zuhair berisyarat dengan kedua jari telunjuknya, satu di atas yang lain, lalu merentangkannya ke kanan dan ke kiri.
Bab : Berapa lama interval antara Adzan dan Iqama? (Dan sesuatu yang menyangkut) orang yang menginginkan Iqama
Ketika muazin mengumandangkan azan, sebagian sahabat Nabi (shallallahu 'alaihi wa sallam) bergegas menuju tiang-tiang (masjid) hingga Nabi (shallallahu 'alaihi wa sallam) keluar, sementara mereka salat dua rakaat sebelum Magrib. Dan tidak ada sesuatu pun antara azan dan ikamah.
Syu'bah berkata, "Tidak ada antara keduanya kecuali sedikit."
Bab : Pepatah seseorang "Kami telah melewatkan As-Salat (shalat)"
Ketika kami sedang salat bersama Nabi ﷺ, beliau mendengar keributan beberapa orang. Setelah salat, beliau bersabda, "Ada apa dengan kalian?" Mereka menjawab, "Kami tergesa-gesa untuk salat." Beliau bersabda, "Janganlah kalian berbuat demikian. Apabila kalian mendatangi salat, hendaklah kalian tenang. Apa yang kalian dapatkan (dari salat berjamaah), maka salatlah, dan apa yang tertinggal, maka sempurnakanlah."
Bab : Seseorang tidak boleh berdiri untuk As-Salat (doa) dengan tergesa-gesa tetapi dengan ketenangan dan kekhidmatan.
Abu Nu'aim menceritakan kepada kami, dia berkata: Syaiban menceritakan kepada kami, dari Yahya, dari Abdullah bin Abi Qatadah, dari ayahnya, beliau berkata: Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: 'Apabila iqamah telah dikumandangkan, maka janganlah kalian berdiri sampai kalian melihatku, dan hendaklah kalian tenang.' Ali bin al-Mubarak juga meriwayatkannya.
Bab : Untuk berbicara setelah Iqama
Telah menceritakan kepada kami 'Ayyash bin Al-Walid berkata, telah menceritakan kepada kami Abdul A'la berkata, telah menceritakan kepada kami Humaid berkata, saya bertanya kepada Tsabit Al-Bunani tentang seorang laki-laki yang berbicara setelah Iqamah shalat dikumandangkan. Maka dia menceritakan kepadaku dari Anas bin Malik, dia berkata, 'Shalat telah diiqamahkan, lalu seorang laki-laki menghadap Nabi ﷺ dan menahannya setelah iqamah shalat dikumandangkan.'
Bab : Keunggulan Salat berjamaah (shalat)
Nabi ﷺ bersabda, “Salat berjamaah mengungguli salat sendirian dengan dua puluh lima derajat.”
Bab : Keunggulan shalat Subuh di jamaah.
Pahala shalat berjamaah dua puluh tujuh kali lebih besar (daripada shalat yang dilakukan sendirian).
Orang yang paling besar pahalanya dalam salat adalah orang yang paling jauh (ke masjid), lalu yang lebih dekat, dan seterusnya. Begitu pula orang yang menunggu salat hingga ia salat bersama imam lebih besar pahalanya daripada orang yang salat kemudian tidur.
Bab : Keunggulan shalat Zuhur lebih awal
Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, "Ketika seorang laki-laki berjalan di suatu jalan, ia mendapati dahan berduri di jalan itu, lalu ia menyingkirkannya. Maka Allah berterima kasih kepadanya dan mengampuninya."
Kemudian beliau shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, "Para syuhada itu ada lima: orang yang meninggal karena tha'un (wabah), orang yang meninggal karena sakit perut, orang yang tenggelam, orang yang tertimpa reruntuhan, dan orang yang gugur di jalan Allah."
Beliau juga bersabda, "Seandainya manusia mengetahui apa yang ada pada azan dan saf pertama, kemudian mereka tidak mendapat jalan selain dengan mengundi, niscaya mereka akan mengundi. Dan seandainya mereka mengetahui apa yang ada pada at-tahjir (menyegerakan shalat), niscaya mereka akan berlomba-lomba kepadanya. Dan seandainya mereka mengetahui apa yang ada pada shalat 'atamah (Isya) dan shalat Subuh, niscaya mereka akan mendatanginya walaupun dengan merangkak."
Bab : (pahala seseorang) yang menunggu As-Salat (shalat) di masjid dan keunggulan masjid
Nabi (ﷺ) bersabda, “Allah akan menaungi tujuh golongan pada hari yang tidak ada naungan kecuali naungan-Nya: pemimpin yang adil, pemuda yang tumbuh dalam ibadah kepada Tuhannya, laki-laki yang hatinya terikat kepada masjid, dua orang yang saling mencintai karena Allah, yang bertemu dan berpisah karena-Nya, seorang laki-laki yang diajak (berbuat dosa) oleh wanita berkedudukan dan cantik lalu ia berkata, ‘Sesungguhnya aku takut kepada Allah’, seorang yang bersedekah secara sembunyi-sembunyi sehingga tangan kirinya tidak mengetahui apa yang diinfakkan oleh tangan kanannya, dan seseorang yang mengingat Allah dalam kesendirian lalu kedua matanya mengalirkan air mata.”
Bab : Bisakah Imam mempersembahkan Salat (shalat) hanya dengan mereka yang hadir (untuk shalat)? Dan bisa menyampaikan Khutba (ceramah agama) pada hari Jumat jika hujan?
Telah menceritakan kepada kami Adam, dia berkata: Telah menceritakan kepada kami Syu’bah, dia berkata: Telah menceritakan kepada kami Anas bin Sirin, dia berkata: Aku mendengar Anas berkata: Seorang laki-laki dari kaum Anshar berkata, “Aku tidak mampu shalat bersamamu.” Dia adalah laki-laki yang sangat gemuk. Dia membuatkan makanan untuk Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam lalu mengundangnya ke rumahnya. Dia membentangkan tikar untuk beliau dan memercikkan air pada ujung tikar tersebut, lalu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam shalat dua rakaat di atasnya. Seorang laki-laki dari keluarga Al-Jarud bertanya kepada Anas, “Apakah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa shalat Dhuha?” Dia menjawab, “Aku tidak pernah melihat beliau shalat Dhuha kecuali pada hari itu.”
Bab : Orang-orang terpelajar yang beragama berhak didahulukan dalam memimpin Salat (shalat)
Nabi (shallallahu 'alaihi wa sallam) tidak keluar selama tiga hari. Orang-orang berdiri untuk shalat dan Abu Bakar maju untuk memimpin shalat. (Sementara itu) Nabi (shallallahu 'alaihi wa sallam) memegang tabir dan mengangkatnya. Ketika wajah Nabi (shallallahu 'alaihi wa sallam) muncul, kami belum pernah melihat pemandangan yang lebih menyenangkan daripada wajah Nabi (shallallahu 'alaihi wa sallam) saat itu. Nabi (shallallahu 'alaihi wa sallam) memberi isyarat kepada Abu Bakar untuk memimpin orang-orang dalam shalat, lalu menurunkan tabir. Kami tidak melihatnya (lagi) hingga beliau wafat.
Bab : Imam ditunjuk untuk diikuti
Telah menceritakan kepada kami ʿAbdullāh bin Yūsuf, ia berkata: telah mengabarkan kepada kami Mālik, dari Ibnu Syihāb, dari Anas bin Mālik, bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam menunggang kuda, lalu ia terjatuh dan sisi kanannya terluka. Beliau mengerjakan salah satu shalat dengan duduk, dan kami shalat di belakang beliau dengan duduk. Setelah selesai, beliau bersabda, "Sesungguhnya imam itu dijadikan untuk diikuti. Apabila ia shalat berdiri, maka shalatlah kalian berdiri; apabila ia rukuk, maka rukuklah; apabila ia bangkit, maka bangkitlah; dan apabila ia mengucapkan سَمِعَ اللهُ لِمَنْ حَمِدَهُ, ucapkanlah رَبَّنَا وَلَكَ الْحَمْدُ. Apabila ia shalat berdiri, maka shalatlah kalian berdiri; dan apabila ia shalat duduk, maka shalatlah kalian semua dengan duduk."
Abū ʿAbdullāh (al-Bukhārī) berkata: Al-Humaidī berkata: Ucapan beliau, "Apabila ia shalat duduk, maka shalatlah kalian dengan duduk," adalah pada sakit beliau yang pertama. Kemudian setelah itu Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam shalat dengan duduk sementara orang-orang shalat berdiri di belakang beliau, dan beliau tidak memerintahkan mereka untuk duduk. Yang diamalkan adalah perbuatan Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam yang terakhir.
Bab : Kapan mereka yang berada di belakang Imam harus sujud?
Al-Bara' (yang tidak berdusta) berkata: Apabila Rasulullah ﷺ mengucapkan: 'Sami'a l-lahu liman hamidah', tidak seorang pun dari kami membungkukkan punggungnya (untuk sujud) sehingga Nabi ﷺ sujud, kemudian kami sujud setelah beliau.
Bab : Seorang budak atau budak yang dikuasai dapat memimpin Salat (shalat)
Telah menceritakan kepada kami Ibrāhīm ibn al-Mundhir, dia berkata: Telah menceritakan kepada kami Anas ibn ʿIyāḍ, dari ʿUbaydullāh, dari Nāfiʿ, dari Ibn ʿUmar, dia berkata: Ketika para muhajirin pertama tiba di al-ʿUsba – sebuah tempat di Qubā' – sebelum kedatangan Rasulullah ﷺ, Sālim, maula Abū Hudhayfa, yang paling banyak hafalan Al-Qur'annya di antara mereka, menjadi imam shalat mereka.
Nabi Muhammad (shallallahu 'alaihi wa sallam) bersabda: "Dengarkanlah dan taatilah, bahkan jika yang diangkat sebagai pemimpin kalian adalah seorang Habasyah (Ethiopia) yang kepalanya seperti kismis."
Bab : Berdoa di belakang seorang pria yang menjadi korban Al-Fitan (cobaan dan kasih sayang) atau bidat.
Abu 'Abdullah berkata: Muhammad bin Yusuf berkata kepada kami: Al-Awza'i menceritakan kepada kami: Az-Zuhri menceritakan kepada kami dari Humayd bin 'Abdurrahman, dari 'Ubaidullah bin 'Adi bin Khiyar, bahwa ia masuk menemui 'Utsman bin 'Affan radhiyallahu 'anhu ketika beliau dikepung, lalu ia berkata: “Engkau adalah imam kaum muslimin secara umum, dan engkau telah ditimpa musibah yang engkau lihat. Seorang imam fitnah memimpin kami shalat, dan kami khawatir berdosa jika shalat di belakangnya.” Beliau menjawab: “Shalat adalah sebaik-baik amalan manusia. Apabila manusia berbuat baik, maka berbuat baiklah bersama mereka, dan apabila mereka berbuat buruk, maka jauhilah keburukan mereka.”
Az-Zubaidy berkata: Az-Zuhri berkata: “Kami tidak berpendapat bahwa boleh shalat di belakang seorang laki-laki yang keperempuan-perempuanan, kecuali karena keadaan darurat yang tidak ada jalan lain.”