Sahih al-Bukhari

Sahih al-Bukhari 3869

Terbelahnya bulan
Teks hadis bahasa Arab
حَدَّثَنَا عَبْدَانُ، عَنْ أَبِي حَمْزَةَ، عَنِ الأَعْمَشِ، عَنْ إِبْرَاهِيمَ، عَنْ أَبِي مَعْمَرٍ، عَنْ عَبْدِ اللَّهِ ـ رضى الله عنه ـ قَالَانْشَقَّ الْقَمَرُ وَنَحْنُ مَعَ النَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم بِمِنًى فَقَالَ ‏"‏ اشْهَدُوا ‏"‏‏.‏ وَذَهَبَتْ فِرْقَةٌ نَحْوَ الْجَبَلِوَقَالَ أَبُو الضُّحَى عَنْ مَسْرُوقٍ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ انْشَقَّ بِمَكَّةَ‏.‏ وَتَابَعَهُ مُحَمَّدُ بْنُ مُسْلِمٍ عَنِ ابْنِ أَبِي نَجِيحٍ عَنْ مُجَاهِدٍ عَنْ أَبِي مَعْمَرٍ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ‏.‏
Terjemahan
Diriwayatkan oleh Abdullah

Orang-orang Mekah meminta Rasulullah (shallallahu 'alaihi wa sallam) untuk menunjukkan kepada mereka suatu tanda, maka beliau memperlihatkan kepada mereka bulan terbelah menjadi dua bagian, hingga mereka melihat gunung Hira' di antara kedua bagian itu.

Komentar

Pembelahan Bulan: Sebuah Mukjizat Ilahi

Narasi ini dari Sahih al-Bukhari 3869 menggambarkan salah satu mukjizat terbesar yang diberikan kepada Nabi Muhammad (ﷺ), di mana bulan terbelah menjadi dua bagian yang berbeda secara kasat mata di depan mata para sahabat di Mina.

Komentar Ilmiah

Pembelahan bulan (inshiqāq al-qamar) termasuk di antara tanda-tanda jelas (ayāt) yang disebutkan dalam Al-Qur'an: "Hari Kiamat telah dekat, dan bulan telah terbelah" (54:1). Peristiwa ini terjadi sekitar lima tahun sebelum Hijrah ketika kaum musyrik Mekah menuntut sebuah mukjizat.

Perintah Nabi "Jadilah saksi" menetapkan ini sebagai mukjizat publik yang disaksikan oleh banyak sahabat, menjadikannya bukti yang tak terbantahkan dari kenabiannya. Lokasi di Mina selama musim haji memastikan saksi maksimal.

Ulama klasik mencatat bahwa mukjizat ini menunjukkan kekuasaan Allah atas ciptaan dan berfungsi sebagai tanggapan terhadap tantangan orang-orang kafir. Gunung yang disebutkan kemungkinan merujuk pada Gunung Hira atau puncak sekitarnya di mana satu bagian menjadi terlihat.

Signifikansi dan Pelajaran

Mukjizat ini menegaskan kebenaran wahyu Islam dan berfungsi sebagai pengingat akan kekuasaan mutlak Allah atas benda-benda langit. Ini menetapkan keaslian misi Nabi Muhammad melalui bukti nyata.

Peristiwa ini juga mengajarkan tentang pentingnya bersaksi atas kebenaran dan sifat sementara fenomena duniawi dibandingkan dengan kekuatan ilahi. Para ulama menekankan bahwa mukjizat semacam itu diberikan untuk memperkuat iman Muslim awal dan membingungkan lawan-lawan Islam.