Aisyah berkata, “Barangsiapa memberitahumu bahwa Muhammad telah melihat Tuhannya, maka dia adalah pendusta, karena Allah berfirman: “Tidak ada penglihatan yang dapat memahaminya.” (6:103) Dan jika ada yang memberitahumu bahwa Muhammad telah melihat yang ghaib, maka dia adalah pendusta, karena Allah berfirman: “Tidak ada yang mengetahui hal yang ghaib kecuali Allah.”
Keesaan, Keunikan Allah (Tauhid)
Sahih al-Bukhari - Hadis 7380
Riwayat
`Aisyah berkata, "Jika ada yang mengatakan kepadamu bahwa Muhammad telah melihat Tuhannya, dia adalah pendusta, karena Allah berfirman: 'Tidak ada penglihatan yang dapat menjangkau-Nya.' (6.103) Dan jika ada yang mengatakan kepadamu bahwa Muhammad telah melihat yang gaib, dia adalah pendusta, karena Allah berfirman: 'Tidak ada yang memiliki pengetahuan tentang yang gaib kecuali Allah.'"
Komentar tentang Transendensi Ilahi
Ibu Orang-Orang Beriman, `Aisyah, menetapkan prinsip dasar akidah Islam: transendensi mutlak (tanzīh) Allah. Tidak ada makhluk yang dapat memahami Hakikat Ilahi melalui penglihatan fisik, sebagaimana ditegaskan dalam Surah al-An'am. Ini melindungi doktrin ketidakterbandingan Allah dari kesalahpahaman antropomorfik.
Tafsir Bukti-Bukti Al-Quran
Ayat "Tidak ada penglihatan yang dapat menjangkau-Nya" (6:103) menunjukkan bahwa Hakikat Allah berada di luar persepsi dan imajinasi manusia. Frasa berikutnya "tetapi Dia menjangkau semua penglihatan" menegaskan pengetahuan dan kekuasaan-Nya yang lengkap atas ciptaan, menjaga keseimbangan antara transendensi dan kemahakuasaan ilahi.
Pengetahuan tentang yang Gaib
`Aisyah lebih lanjut menjelaskan bahwa pengetahuan tentang ghayb (yang gaib) adalah milik Allah secara eksklusif. Sementara para nabi menerima wahyu tentang hal-hal tertentu dari yang gaib, pengetahuan komprehensif tetap hanya milik Allah. Ini membedakan antara pengetahuan kenabian yang terbatas melalui wahyu dan pengetahuan mutlak Allah.
Konsensus Ulama
Riwayat ini mewakili posisi Ahl al-Sunnah mengenai Mi'raj (Perjalanan Malam). Nabi melihat Allah dengan hatinya, bukan dengan mata fisiknya, seperti yang dijelaskan oleh Imam al-Nawawi dan ulama klasik lainnya. Ini melestarikan realitas pengalaman spiritual dan transendensi Allah di luar persepsi manusia.