حَدَّثَنَا آدَمُ، حَدَّثَنَا شُعْبَةُ، حَدَّثَنَا ثَابِتٌ الْبُنَانِيُّ، عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ ـ رضى الله عنه ـ قَالَ النَّبِيُّ صلى الله عليه وسلم ‏"‏ لاَ يَتَمَنَّيَنَّ أَحَدُكُمُ الْمَوْتَ مِنْ ضُرٍّ أَصَابَهُ، فَإِنْ كَانَ لاَ بُدَّ فَاعِلاً فَلْيَقُلِ اللَّهُمَّ أَحْيِنِي مَا كَانَتِ الْحَيَاةُ خَيْرًا لِي، وَتَوَفَّنِي إِذَا كَانَتِ الْوَفَاةُ خَيْرًا لِي ‏"‏‏.‏
Terjemahan
Diriwayatkan Abu Huraira

Aku mendengar Rasulullah (ﷺ) bersabda, "Perbuatan baik seseorang tidak akan membuatnya masuk surga." (yaitu, Tidak ada yang bisa masuk surga melalui perbuatan baiknya.) Mereka (sahabat Nabi) berkata, 'Bahkan engkau, wahai Rasulullah (ﷺ?') Dia berkata, "Bahkan aku sendiri, kecuali Allah melimpahkan nikmat dan rahmat-Nya kepadaku." Maka bersikaplah moderat dalam perbuatan agamamu dan lakukanlah perbuatan yang sesuai kemampuanmu: dan tidak seorang pun dari kamu boleh mengharapkan kematian, karena jika dia seorang pelaku yang baik, dia boleh meningkatkan perbuatan baiknya, dan jika dia seorang pelaku kejahatan, dia boleh bertaubat kepada Allah."

Comment

Eksposisi Hadis

Narasi mendalam dari Sahih al-Bukhari (5673) ini mengandung ajaran penting tentang rahmat ilahi, moderasi dalam ibadah, dan larangan mengharapkan kematian. Nabi Muhammad (ﷺ) memulai dengan menyatakan bahwa tidak ada amal baik seseorang saja yang dapat menjamin masuk Surga, menetapkan prinsip Islam fundamental bahwa keselamatan datang melalui rahmat Allah daripada semata-mata jasa manusia.

Implikasi Teologis

Ketika para sahabat bertanya "Bahkan engkau pun tidak, wahai Utusan Allah?" mereka menunjukkan penghormatan mereka kepada Nabi sambil mencari kejelasan. Tanggapan Nabi "Bahkan diriku sendiri pun tidak" menetapkan bahwa bahkan para nabi bergantung pada rahmat ilahi. Ini menghilangkan kesombongan spiritual dan memperkuat tawakkal (ketergantungan pada Allah).

Ajaran ini menyeimbangkan antara dua ekstrem: kenyamanan dalam dosa berdasarkan harapan rahmat, dan keputusasaan mencapai keselamatan. Jalan yang benar adalah berusaha dalam ketaatan sambil menyadari bahwa penerimaan akhir bergantung pada karunia Allah.

Panduan Praktis

"Bersikaplah moderat dalam amal ibadahmu" menginstruksikan umat beriman untuk mengadopsi praktik ibadah yang berkelanjutan daripada asketisme ekstrem yang menyebabkan kelelahan. Nabi menekankan konsistensi daripada intensitas, karena Allah paling mencintai amal-amal yang dilakukan secara konsisten meskipun kecil.

"Lakukanlah amal-amal yang berada dalam kemampuanmu" mengakui keterbatasan manusia sambil mendorong kemajuan yang stabil. Ini mengakomodasi kapasitas dan keadaan yang berbeda di antara umat beriman.

Larangan Mengharapkan Kematian

Larangan terhadap mengharapkan kematian melayani berbagai hikmah: Bagi orang yang saleh, kehidupan yang berkelanjutan memberikan peluang untuk meningkatkan amal baik. Bagi orang berdosa, hal ini memungkinkan waktu untuk pertobatan dan reformasi. Ajaran ini mendorong optimisme dan keterlibatan aktif dengan ujian hidup sebagai peluang untuk pertumbuhan spiritual.

Panduan komprehensif dari Kitab Pasien dalam Sahih al-Bukhari ini memberikan pendekatan seimbang terhadap ibadah, harapan, dan perkembangan spiritual yang tetap relevan untuk semua zaman dan keadaan.