Ketika waktu kematian Abu Thalib mendekat, Rasulullah (صلى الله عليه وسلم) mendatanginya dan menemukan Abu Jahl bin Hisyam dan 'Abdullah bin Abi Umaiya bin Al-Mughira di sisinya. Rasulullah (صلى الله عليه وسلم) berkata kepada Abu Thalib, "Wahai paman! Katakanlah: Tidak ada yang berhak disembah selain Allah, ayat yang dengannya aku akan menjadi saksi bagimu di hadapan Allah. Abu Jahl dan 'Abdullah bin Abi Umaiya berkata, "Wahai Abu Thalib! Apakah Anda akan mencela agama 'Abdul Muttalib?" Rasulullah (صلى الله عليه وسلم) terus mengundang Abu Thalib untuk mengatakannya (yaitu, 'Tidak ada yang berhak untuk disembah kecuali Allah') sementara mereka (Abu Jahl dan Abdullah) terus mengulangi pernyataan mereka sampai Abu Thalib mengatakan sebagai pernyataan terakhirnya bahwa dia beragama dengan 'Abdul Muttalib dan menolak untuk mengatakan, 'Tidak ada yang berhak untuk disembah selain Allah.' (Kemudian Rasulullah (صلى الله عليه وسلم) bersabda, "Aku akan terus memohon ampun kepada Allah untukmu kecuali aku dilarang (oleh Allah) untuk melakukannya." Maka Allah menyatakan (ayat) tentang dia (yaitu, tidak pantas bagi Nabi (صلى الله عليه وسلم) dan orang-orang yang beriman bahwa mereka harus memohon (Allah) untuk pengampunan bagi orang-orang meskipun mereka adalah kerabat, setelah menjadi jelas bagi mereka bahwa mereka adalah sahabat api (9.113).
Pemakaman (Al-Janaa'iz) - Sahih al-Bukhari 1360
Narasi ini dari Sahih al-Bukhari mengandung pelajaran mendalam mengenai saat-saat terakhir Abu Talib, paman tercinta Nabi Muhammad ﷺ, dan ketetapan ilahi mengenai doa untuk para musyrik setelah kematian mereka.
Undangan Terakhir kepada Islam
Upaya gigih Nabi ﷺ di ranjang kematian pamannya menunjukkan pentingnya dakwah hingga napas terakhir. Permintaan spesifiknya agar Abu Talib bersaksi tentang keesaan Allah menekankan bahwa Tauhid adalah persyaratan mendasar untuk keselamatan.
Intervensi Abu Jahl dan Abdullah bin Abi Umaiya mewakili bagaimana keterikatan duniawi dan loyalitas kesukuan sering menghalangi orang menerima kebenaran, bahkan pada momen paling kritis dalam hidup mereka.
Larangan Ilahi Dijelaskan
Wahyu Allah dalam Surah At-Tawbah (9:113) menetapkan prinsip Islam yang permanen: tidak diperbolehkan bagi orang beriman untuk memohon ampunan bagi mereka yang mati dalam keadaan syirik setelah kebenaran menjadi jelas bagi mereka.
Ketetapan ini berlaku terlepas dari ikatan kekerabatan, menunjukkan bahwa kebenaran ilahi melampaui hubungan duniawi. Kejelasan larangan ini datang setelah Nabi ﷺ terus berdoa untuk pamannya.
Komentar Ilmiah
Ulama klasik menjelaskan bahwa larangan ini berlaku khususnya bagi mereka yang mati dalam keadaan syirik yang jelas setelah menerima pesan Islam. Ketetapan ini menekankan beratnya syirik dan pentingnya mati dalam keadaan Tauhid.
Insiden ini juga menggambarkan kasih sayang mendalam Nabi ﷺ dan pergulatannya antara cinta keluarga alami dan ketaatan pada perintah ilahi, akhirnya tunduk sepenuhnya pada keputusan Allah.