Rasulullah (صلى الله عليه وسلم) biasa berlatih I'tikaf pada pertengahan sepuluh hari Ramadhan dan pernah dia tinggal di I'tikaf sampai malam tanggal dua puluh satu dan itu adalah malam di pagi hari di mana dia biasa keluar dari I'tikaf-nya. Nabi (صلى الله عليه وسلم) bersabda, "Barangsiapa berada di I'tikaf bersamaku harus tinggal di I'tikaf selama sepuluh hari terakhir, karena aku diberitahu (tanggal) Malam (Qadr) tetapi aku telah dilupakannya. (Dalam mimpi) Saya melihat diri saya bersujud di lumpur dan air di pagi hari malam itu. Jadi, carilah di sepuluh malam terakhir dan di malam yang aneh." Hujan turun malam itu dan atap masjid menggelecek karena terbuat dari tangkai daun kurma. Saya melihat dengan mata kepala sendiri tanda lumpur dan air di dahi Nabi (yaitu pada pagi hari tanggal dua puluh satu).
Mengundurkan Diri ke Masjid untuk Mengingat Allah (I'tikaf)
Sahih al-Bukhari - Hadith 2027
Keunggulan I'tikaf di Ramadan
I'tikaf adalah retret spiritual di masjid untuk pengabdian dan mengingat Allah. Nabi Muhammad (ﷺ) menekankan praktiknya terutama selama Ramadan, mencari Malam Takdir (Laylat al-Qadr), yang lebih baik daripada seribu bulan.
Waktu dan Durasi I'tikaf
Nabi (ﷺ) awalnya mengamati I'tikaf selama sepuluh hari pertengahan Ramadan. Namun, setelah menerima instruksi ilahi, ia beralih ke sepuluh hari terakhir, mengakui kemungkinan lebih besar terjadinya Laylat al-Qadr di dalamnya. Praktiknya menunjukkan fleksibilitas dalam ibadah berdasarkan panduan yang diperbarui.
Pencarian Laylat al-Qadr
Nabi (ﷺ) diberitahu tanggal pasti Laylat al-Qadr tetapi kemudian dibuat lupa. Ini mengajarkan kerendahan hati dan mendorong ibadah yang gigih sepanjang sepuluh malam terakhir, terutama yang ganjil (ke-21, ke-23, ke-25, ke-27, ke-29). Mimpi beliau bersujud di lumpur dan air melambangkan keberkahan dan kemurnian spiritual malam itu.
Konfirmasi Ilahi Melalui Tanda-Tanda Alam
Hujan dan atap masjid yang bocor, terbuat dari batang kurma, menyebabkan terpenuhinya visi Nabi. Lumpur dan air di dahinya keesokan paginya berfungsi sebagai tanda nyata dari Allah, mengonfirmasi keaslian mimpinya dan keberkahan malam tertentu itu.
Refleksi Ilmiah
Hadis ini menekankan pentingnya I'tikaf sebagai sarana mendekatkan diri kepada Allah. Ini menyoroti keunggulan sepuluh malam terakhir Ramadan dan mendorong umat beriman untuk meningkatkan ibadah selama periode ini. Contoh Nabi menunjukkan bahwa praktik spiritual dapat disesuaikan berdasarkan wahyu ilahi, dan peristiwa alam dapat berfungsi sebagai konfirmasi kebenaran spiritual.