Istri-istri Nabi (صلى الله عليه وسلم) bersamanya di masjid (ketika dia berada di I'tikaf) dan kemudian mereka pergi dan Nabi (صلى الله عليه وسلم) berkata kepada Safiya binti Huyai, "Jangan terburu-buru, karena aku akan menemanimu," (dan kediamannya berada di rumah Usama). Nabi (صلى الله عليه وسلم) keluar dan sementara itu dua orang Ansari menemuinya dan mereka melihat Nabi (صلى الله عليه وسلم) dan lewat. Nabi (صلى الله عليه وسلم) berkata kepada mereka, "Kemarilah. Dia adalah (istri saya) Safiya binti Huyai." Mereka menjawab, "Subhan Allah, (Beraninya kami memikirkan kejahatan) wahai rasul Allah! (kami tidak pernah mengharapkan sesuatu yang buruk darimu)." Nabi (صلى الله عليه وسلم) menjawab, "Setan beredar di dalam manusia seperti darah bersirkulasi di dalam tubuh, dan aku takut Setan akan memasukkan pikiran jahat ke dalam pikiranmu."
Mengundurkan Diri ke Masjid untuk Mengingat Allah (I'tikaf)
Sahih al-Bukhari - Hadits 2038
Latar Belakang Kontekstual
Narasi ini terjadi selama praktik Nabi dalam I'tikaf (retret spiritual) di masjid selama Ramadan. Istri-istri Nabi akan mengunjunginya selama retretnya, mempertahankan batasan Islam yang tepat sambil menunjukkan perhatian keluarga.
Komentar Ilmiah tentang Insiden
Nabi yang menemani Safiya menunjukkan kebolehan mengantar kerabat mahram, bahkan selama I'tikaf, asalkan kondisi esensial retret dipertahankan.
Ketika dua orang Ansar lewat dan melirik Nabi berjalan dengan seorang wanita, Nabi segera menjelaskan identitasnya. Ini mengajarkan kita pentingnya menghilangkan keraguan dan mencegah kesalahpahaman sebelum mereka berakar di hati orang.
Signifikansi Spiritual dari Peredaran Setan
Pernyataan Nabi yang mendalam "Setan beredar dalam manusia seperti darah beredar dalam tubuh" menggambarkan sifat konstan dari bisikan setan. Bahkan para Sahabat, yang dikenal karena kemurnian hati mereka, tidak kebal terhadap saran jahat yang potensial.
Analogi ini menekankan bahwa pengaruh Setan meresap dan terus-menerus, memerlukan kewaspadaan konstan melalui mengingat Allah dan mengambil tindakan pencegahan praktis terhadap fitnah.
Pelajaran Hukum dan Etika
Insiden ini menetapkan pentingnya transparansi dalam tindakan yang bisa disalahartikan. Nabi tidak menunggu rumor menyebar tetapi secara proaktif menangani potensi kesalahpahaman.
Ini juga menunjukkan kepedulian Nabi untuk melindungi kehormatannya dan keadaan spiritual para Sahabatnya, mengajarkan para pemimpin untuk melindungi komunitas mereka dari bahaya spiritual.
Tanggapan langsung para Sahabat "Subhan Allah" menunjukkan sikap yang tepat seorang Muslim ketika mendengar sesuatu yang bisa menimbulkan kecurigaan - segera menolak pikiran jahat tentang orang-orang saleh.