Safiya pergi kepada Nabi (صلى الله عليه وسلم) ketika dia berada di I'tikaf. Ketika dia kembali, Nabi (صلى الله عليه وسلم) menemaninya berjalan. Seorang pria Ansari melihatnya. Ketika Nabi (صلى الله عليه وسلم) memperhatikannya, dia memanggilnya dan berkata, "Kemarilah. Dia adalah Safiya. (Sufyan seorang sub-perawi mungkin mengatakan bahwa Nabi (صلى الله عليه وسلم) telah berkata, "Ini adalah Safiya"). Dan Setan beredar di dalam tubuh keturunan Adam saat darahnya bersirkulasi di dalamnya." (Seorang sub-narator bertanya kepada Sufyan, "Apakah Safiya mengunjunginya di malam hari?" Dia berkata, "Tentu saja, di malam hari.")
Keutamaan I'tikaf dan Kewaspadaan Spiritual
Riwayat ini dari Sahih al-Bukhari 2039 menunjukkan teladan perilaku Nabi selama I'tikaf. Meskipun terlibat dalam penyendirian untuk ibadah, beliau mempertahankan hubungan yang baik dengan keluarganya, menunjukkan bahwa I'tikaf tidak mengharuskan isolasi total dari urusan duniawi yang tidak mengganggu ibadah.
Sifat Pengaruh Setan
Pernyataan mendalam Nabi yang membandingkan peredaran Setan dalam manusia dengan peredaran darah mengungkapkan sifat konstan dari perjuangan spiritual. Ini menekankan perlunya kewaspadaan terus-menerus dan ketergantungan pada Allah selama ibadah dan kehidupan sehari-hari.
Transparansi Nabi dalam memanggil laki-laki Anshar dan secara terbuka mengidentifikasi Safiya menunjukkan prinsip Islam dalam menghilangkan kecurigaan dan mempertahankan niat murni dalam semua interaksi.
Panduan Praktis bagi Mereka yang Beri'tikaf
Insiden ini memberikan panduan bahwa interaksi singkat dengan anggota keluarga selama I'tikaf diperbolehkan, asalkan tidak menyebabkan pelanggaran kondisi I'tikaf atau mengganggu tujuan utama ibadah.
Waktu (pada malam hari) yang disebutkan oleh perawi bawahan menunjukkan fleksibilitas dalam menerima tamu selama I'tikaf, meskipun fokus utama harus tetap pada ibadah dan mengingat Allah.