حَدَّثَنَا عَبْدُ الرَّحْمَنِ، حَدَّثَنَا سُفْيَانُ، عَنِ ابْنِ جُرَيْجٍ، عَنْ سُلَيْمَانَ الأَحْوَلِ، خَالِ ابْنِ أَبِي نَجِيحٍ عَنْ أَبِي سَلَمَةَ، عَنْ أَبِي سَعِيدٍ،‏.‏ قَالَ سُفْيَانُ وَحَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ عَمْرٍو، عَنْ أَبِي سَلَمَةَ، عَنْ أَبِي سَعِيدٍ،‏.‏ قَالَ وَأَظُنُّ أَنَّ ابْنَ أَبِي لَبِيدٍ، حَدَّثَنَا عَنْ أَبِي سَلَمَةَ، عَنْ أَبِي سَعِيدٍ ـ رضى الله عنه ـ قَالَ اعْتَكَفْنَا مَعَ رَسُولِ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم الْعَشْرَ الأَوْسَطَ، فَلَمَّا كَانَ صَبِيحَةَ عِشْرِينَ نَقَلْنَا مَتَاعَنَا فَأَتَانَا رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم قَالَ ‏"‏ مَنْ كَانَ اعْتَكَفَ فَلْيَرْجِعْ إِلَى مُعْتَكَفِهِ فَإِنِّي رَأَيْتُ هَذِهِ اللَّيْلَةَ، وَرَأَيْتُنِي أَسْجُدُ فِي مَاءٍ وَطِينٍ ‏"‏‏.‏ فَلَمَّا رَجَعَ إِلَى مُعْتَكَفِهِ، وَهَاجَتِ السَّمَاءُ، فَمُطِرْنَا فَوَالَّذِي بَعَثَهُ بِالْحَقِّ لَقَدْ هَاجَتِ السَّمَاءُ مِنْ آخِرِ ذَلِكَ الْيَوْمِ، وَكَانَ الْمَسْجِدُ عَرِيشًا، فَلَقَدْ رَأَيْتُ عَلَى أَنْفِهِ وَأَرْنَبَتِهِ أَثَرَ الْمَاءِ وَالطِّينِ‏.‏
Terjemahan
Diriwayatkan Abu Sa'id

Kami berlatih I'tikaf dengan Rasulullah (صلى الله عليه وسلم) pada pertengahan sepuluh hari (Ramadhan). Pada pagi hari tanggal dua puluh (Ramadhan) kami memindahkan bagasi kami, tetapi Rasulullah (صلى الله عليه وسلم) datang kepada kami dan berkata, "Siapa pun yang adalah I'tikaf harus kembali ke tempatnya di I'tikaf, karena aku melihat (yaitu diberitahu tentang tanggal) malam ini (Qadr) dan melihat diriku bersujud di lumpur dan air." Ketika saya kembali ke tempat saya, langit mendung dengan awan dan hujan turun. Oleh Dia yang mengutus Muhammad dengan Kebenaran, langit tertutup awan dari akhir hari itu, dan masjid yang beratap dengan batang daun pohon kurma (bocor karena hujan) dan saya melihat jejak lumpur dan air di atas hidung Nabi (صلى الله عليه وسلم) dan ujungnya.

Comment

Beritikaf di Masjid untuk Mengingat Allah (I'tikaf)

Sahih al-Bukhari - Hadits 2040

Konteks dan Signifikansi

Narasi ini menggambarkan praktik I'tikaf selama sepuluh malam terakhir Ramadan, khususnya menyoroti pencarian Laylat al-Qadr (Malam Kemuliaan). Para sahabat awalnya percaya malam yang diberkati berada dalam dua puluh hari pertama, tetapi bimbingan Nabi mengarahkan mereka ke sepuluh malam terakhir.

Konfirmasi Ilahi Melalui Tanda-Tanda Alam

Penglihatan Nabi tentang bersujud dalam lumpur dan air dikonfirmasi secara ajaib oleh hujan yang sebenarnya. Ini berfungsi sebagai tanda nyata dari Allah yang memvalidasi pengetahuan Nabi tentang waktu Laylat al-Qadr. Bukti fisik lumpur di hidung Nabi menunjukkan pemenuhan literal dari penglihatannya.

Komentar Ulama tentang Peraturan I'tikaf

Ulama klasik menyimpulkan dari hadits ini bahwa seseorang boleh meninggalkan masjid sementara selama I'tikaf untuk kebutuhan penting, seperti para sahabat memindahkan barang-barang mereka. Namun, perintah Nabi untuk kembali menetapkan bahwa ketidakhadiran yang tidak perlu membatalkan I'tikaf. Hadits ini juga menunjukkan keutamaan melaksanakan I'tikaf selama sepuluh malam terakhir Ramadan.

Pelajaran Spiritual

Insiden ini mengajarkan pentingnya mengikuti bimbingan kenabian bahkan ketika bertentangan dengan asumsi pribadi. Para sahabat segera menaati meskipun telah berkemas, menunjukkan ketundukan total pada kebijaksanaan ilahi. Tanda-tanda fisik semakin memperkuat iman mereka dalam kenabian dan kepastian terjadinya Laylat al-Qadr pada sepuluh malam terakhir.