حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ مُنِيرٍ، سَمِعَ وَهْبَ بْنَ جَرِيرٍ، وَعَبْدَ الْمَلِكِ بْنَ إِبْرَاهِيمَ، قَالاَ حَدَّثَنَا شُعْبَةُ، عَنْ عُبَيْدِ اللَّهِ بْنِ أَبِي بَكْرِ بْنِ أَنَسٍ، عَنْ أَنَسٍ ـ رضى الله عنه ـ قَالَ سُئِلَ النَّبِيُّ صلى الله عليه وسلم عَنِ الْكَبَائِرِ قَالَ ‏"‏ الإِشْرَاكُ بِاللَّهِ، وَعُقُوقُ الْوَالِدَيْنِ، وَقَتْلُ النَّفْسِ، وَشَهَادَةُ الزُّورِ ‏"‏‏.‏ تَابَعَهُ غُنْدَرٌ وَأَبُو عَامِرٍ وَبَهْزٌ وَعَبْدُ الصَّمَدِ عَنْ شُعْبَةَ‏.‏
Terjemahan
Narasi Abu Bakra

Nabi (ﷺ) berkata tiga kali, “Haruskah aku memberitahukan kepadamu dosa besar yang terbesar?” Mereka menjawab, “Ya, wahai Rasulullah (ﷺ)!” Beliau berkata, “Bergabunglah dengan orang lain dalam ibadah di sisi Allah dan tidak taat kepada orang tuanya.” Nabi (ﷺ) kemudian duduk setelah dia berbaring (di atas bantal) dan berkata, “Dan aku memperingatkan kamu untuk tidak memberikan kesaksian palsu, dan dia terus mengatakan peringatan itu sampai kami pikir dia tidak akan berhenti. (Lihat Hadis No. 7, Jilid 8)

Comment

Paparan Dosa-Dosa Besar

Pengulangan tegas Nabi (ﷺ) tiga kali menunjukkan keseriusan dan pentingnya ajaran ini. Ketika Rasul mengulangi suatu hal, itu menandakan sifat kritisnya dalam agama.

Dosa terbesar adalah syirik - menyekutukan Allah. Ini melanggar prinsip dasar Tauhid (Keesaan Ilahi) dan tidak dapat diampuni kecuali bertobat sebelum kematian.

Dosa besar kedua adalah ketidaktaatan kepada orang tua ('uquq al-walidayn), yang mengikuti syirik dalam tingkat keparahan karena hak orang tua hanya kedua setelah hak Allah.

Keseriusan Kesaksian Palsu

Gerakan fisik Nabi (ﷺ) dari berbaring ke duduk menunjukkan keseriusan peringatannya terhadap saksi palsu (shahadat al-zur).

Pengulangannya yang terus-menerus menunjukkan bahwa kesaksian palsu menghancurkan keadilan sosial, merusak sistem peradilan, dan mengarah pada putusan yang salah yang merugikan individu dan komunitas.

Para ulama menjelaskan bahwa kesaksian palsu termasuk berbohong di bawah sumpah, memalsukan bukti, dan menyembunyikan kebenaran dalam masalah hukum - semua itu merusak fondasi masyarakat Islam.

Hierarki Dosa

Hadis ini menetapkan hierarki dosa, dimulai dengan kejahatan teologis terhadap Allah, kemudian kejahatan sosial terhadap keluarga, diikuti oleh kejahatan terhadap keadilan masyarakat.

Perkembangannya menunjukkan bagaimana dosa terhadap hak Allah mengarah pada dosa terhadap hak asasi manusia, menunjukkan keterkaitan iman dan perilaku sosial dalam Islam.