Aku berkata, “Wahai Rasulullah (ﷺ)! Saya punya dua tetangga dan ingin tahu kepada siapa di antara mereka saya harus memberikan hadiah.” Dia menjawab, “Kepada orang yang pintunya lebih dekat kepadamu.”
Teks Hadis
"Aku berkata, 'Wahai Rasulullah! Aku memiliki dua tetangga dan ingin tahu kepada siapa aku harus memberikan hadiah.' Beliau menjawab, 'Kepada yang pintunya lebih dekat denganmu.'"
Referensi: Sahih al-Bukhari 2259 | Kitab: Shuf'a
Komentar tentang Riwayat
Hadis ini menetapkan prinsip memprioritaskan tetangga terdekat saat memberikan hadiah, menunjukkan kebijaksanaan Rasul dalam hal-hal praktis hubungan sosial. Kedekatan yang disebutkan mengacu pada kedekatan fisik, karena tetangga yang lebih dekat lebih langsung terpengaruh oleh tindakan seseorang dan memiliki hak lebih besar karena kehadiran mereka yang konstan.
Para ulama menjelaskan bahwa panduan ini tidak meniadakan pemberian kepada tetangga lain tetapi menetapkan urutan prioritas. Kebijaksanaan di balik ini adalah bahwa tetangga yang lebih dekat menyaksikan lebih banyak kehidupan sehari-hari kita, yang pertama menawarkan bantuan dalam keadaan darurat, dan paling terpengaruh oleh perilaku kita. Dengan demikian, memelihara hubungan baik dengan mereka didahulukan.
Implikasi Hukum dan Etika
Yurisprudensi Islam mengambil dari hadis ini bahwa hak-hak tetangga bervariasi sesuai dengan kedekatan mereka. Tetangga terdekat memiliki klaim terkuat untuk kebaikan, diikuti oleh yang berikutnya. Keputusan ini berlaku untuk hadiah sukarela, bukan amal wajib (zakat), yang memiliki aturan distribusinya sendiri.
Hadis ini juga mengajarkan pentingnya kebijaksanaan praktis dalam menerapkan prinsip-prinsip umum. Sementara Al-Quran memerintahkan kebaikan kepada tetangga secara umum, Nabi memberikan panduan spesifik untuk situasi di mana pilihan harus dibuat, memastikan hubungan yang paling langsung dipelihara terlebih dahulu.
Konteks Lebih Luas tentang Hak-Hak Tetangga
Riwayat ini melengkapi ajaran lain di mana Nabi menekankan hak-hak tetangga begitu kuat sehingga beliau berkata, "Jibril terus merekomendasikan saya untuk memperlakukan tetangga dengan baik sampai saya pikir dia akan menjadikan mereka ahli waris." Prioritas yang diberikan kepada tetangga terdekat mencerminkan pendekatan Islam yang komprehensif dalam membangun komunitas yang harmonis.
Kebijaksanaan dalam panduan ini memastikan bahwa ikatan sosial diperkuat di mana mereka paling dibutuhkan - dalam lingkungan hidup langsung. Ini menumbuhkan lingkungan yang aman dan kooperatif di mana Muslim dapat mempraktikkan iman mereka dalam lingkungan yang mendukung, memenuhi aspek komunal Islam.