Telingaku mendengar dan mataku melihat Nabi (ﷺ) ketika dia berkata, “Barangsiapa percaya kepada Allah dan Hari Akhir, hendaklah melayani sesamanya dengan murah hati, dan siapa pun yang percaya kepada Allah dan Hari Akhir harus melayani tamunya dengan murah hati dengan memberinya pahala.” Itu ditanyakan. “Apa pahala dia, wahai Rasulullah (ﷺ)?” Beliau berkata, “(Untuk dihibur dengan murah hati) selama sehari dan satu malam dengan makanan berkualitas tinggi dan tamu berhak untuk dihibur selama tiga hari (dengan makanan biasa) dan jika dia tinggal lebih lama, apa yang akan diberikan kepadanya akan dianggap sebagai Sadaqa (hadiah amal). Dan barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah berbicara yang baik atau diam (yaitu menjauhkan diri dari segala macam perkataan kotor dan jahat).
Komentar Hadis: Hak-Hak Tetangga dan Tamu
Hadis mulia ini dari Sahih al-Bukhari mengandung tiga ajaran Islam mendasar yang membedakan iman sejati. Nabi Muhammad (ﷺ) berulang kali menekankan "siapa yang beriman kepada Allah dan Hari Akhir" untuk menetapkan ini sebagai manifestasi penting dari iman yang asli, bukan sekadar kebajikan opsional.
Hak Tetangga
"Harus melayani tetangganya dengan murah hati" mencakup bantuan materi, perlakuan baik, perlindungan dari bahaya, dan berbagi berkah. Ulama klasik seperti Imam Nawawi menjelaskan bahwa hak-hak tetangga meliputi: menyapa mereka dengan ramah, mengunjungi mereka saat sakit, menghibur mereka dalam kesulitan, mengucapkan selamat dalam kebahagiaan, mengabaikan kesalahan mereka, dan dengan sabar menanggung gangguan apa pun yang mungkin mereka sebabkan.
Kemurahan hati yang disebutkan bersifat komprehensif - ini termasuk berbagi makanan, menawarkan pinjaman, memberikan hadiah, dan menyediakan bantuan apa pun yang mereka butuhkan. Ibn Hajar al-Asqalani dalam Fath al-Bari mencatat bahwa pengulangan Nabi atas "siapa yang beriman kepada Allah dan Hari Akhir" sebelum setiap perintah menunjukkan bahwa ini adalah komponen penting dari iman yang lengkap.
Hak Tamu
Hak-hak tamu ditentukan dengan durasi yang tepat: satu hari dan malam keramahan yang murah hati dengan makanan terbaik yang tersedia, diikuti dua hari tambahan penyediaan yang memadai. Setelah tiga hari, tuan rumah lebih lanjut menjadi sedekah sukarela. Pendekatan seimbang ini mencegah pengabaian tamu dan beban yang tidak semestinya pada tuan rumah.
Para ulama membedakan antara "pahala" (perlakuan murah hati hari pertama) dan keramahan biasa. Al-Qurtubi menjelaskan bahwa "pahala" mengacu pada pahala spiritual tuan rumah dari Allah, sementara juga menunjukkan hak tamu untuk perlakuan yang sangat baik pada awalnya.
Menjaga Ucapan Seseorang
"Harus berbicara yang baik atau diam" menetapkan etika ucapan Islam. Imam al-Ghazali menjelaskan bahwa setiap kata harus mengandung manfaat atau setidaknya menghindari bahaya. Diam lebih aman daripada ucapan yang tidak berguna, sementara ucapan yang baik termasuk mengingat Allah, pengetahuan yang bermanfaat, kata-kata baik, dan komunikasi yang jujur.
Ajaran ini menghubungkan perilaku sosial eksternal dengan keadaan spiritual internal. Ibn Rajab al-Hanbali mencatat bahwa mengendalikan lidah seseorang adalah salah satu bentuk ibadah tertinggi, karena ini menunjukkan penguasaan atas diri rendah dan komitmen untuk menyenangkan Allah dalam semua urusan.
Integrasi Iman dan Perilaku
Hadis ini dengan indah menunjukkan bagaimana iman Islam terwujud dalam perilaku praktis. Kepercayaan kepada Allah dan Akhirat secara alami menghasilkan keunggulan dalam interaksi sosial, keramahan, dan ucapan. Tiga perintah ini bersama-sama menciptakan kerangka kerja lengkap untuk hidup yang benar yang menguntungkan individu dan masyarakat.
Seperti tercatat dalam Sahih al-Bukhari 6019 di bawah buku "Adab dan Bentuk yang Baik (Al-Adab)," ajaran-ajaran ini mengingatkan kita bahwa iman sejati harus diterjemahkan menjadi karakter yang indah dan hubungan sosial yang tepat, memenuhi hak-hak Allah dan hak-hak ciptaan-Nya.