حَدَّثَنَا آدَمُ، حَدَّثَنَا شُعْبَةُ، عَنْ قَتَادَةَ، عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ ـ رضى الله عنه ـ قَالَ قَالَ النَّبِيُّ صلى الله عليه وسلم ‏"‏ لاَ يَجِدُ أَحَدٌ حَلاَوَةَ الإِيمَانِ حَتَّى يُحِبَّ الْمَرْءَ، لاَ يُحِبُّهُ إِلاَّ لِلَّهِ، وَحَتَّى أَنْ يُقْذَفَ فِي النَّارِ أَحَبُّ إِلَيْهِ مِنْ أَنْ يَرْجِعَ إِلَى الْكُفْرِ، بَعْدَ إِذْ أَنْقَذَهُ اللَّهُ، وَحَتَّى يَكُونَ اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَحَبَّ إِلَيْهِ مِمَّا سِوَاهُمَا ‏"‏‏.‏
Terjemahan
Narasi Anas bin Malik

Rasulullah SAW bersabda: “Tidak ada seorang pun yang mendapat nikmat dari iman (a) sampai dia mencintai seseorang dan mencintainya hanya demi Allah, (b) dan sampai menjadi lebih berharga baginya untuk dilemparkan ke dalam api daripada kembali ke kekafiran (kafir) setelah Allah mengeluarkannya darinya, (c) dan sampai Allah dan Rasul-Nya menjadi lebih menyayanginya daripada apa pun.” ﷺ

Comment

Eksposisi Hadis tentang Kemanisan Iman

Hadis mulia ini dari Sahih al-Bukhari (6041) dalam Kitab Adab dan Bentuk (Al-Adab) menguraikan tiga kondisi mendasar untuk mengalami kemanisan sejati iman (keimanan). Nabi Muhammad (ﷺ) menggambarkan ini sebagai tahapan perkembangan spiritual yang berurutan yang membawa seorang mukmin kepada kenikmatan tertinggi dari hubungan ilahi.

Kondisi Pertama: Cinta karena Allah

"Sampai dia mencintai seseorang dan mencintainya hanya karena Allah" - Ini menandakan cinta murni, tanpa pamrih yang bebas dari kepentingan duniawi, kekerabatan, atau afiliasi kesukuan. Para ulama menjelaskan bahwa cinta seperti ini muncul ketika seseorang mengenali kualitas iman dan ketaatan kepada Allah dalam mukmin lainnya. Persaudaraan dalam iman ini melampaui semua hubungan duniawi dan menjadi sarana untuk mendekatkan diri kepada Yang Mahakuasa.

Imam An-Nawawi berkomentar bahwa jenis cinta ini termasuk ikatan iman yang paling kuat, di mana para mukmin menjadi seperti struktur tunggal yang saling mendukung. Kemanisan iman terwujud ketika cinta ilahi ini menjadi fondasi semua hubungan manusia.

Kondisi Kedua: Kebencian terhadap Kekafiran

"Sampai menjadi lebih berharga baginya untuk dilemparkan ke dalam api daripada kembali kepada kekafiran" - Para ulama menafsirkan ini sebagai ujian tertinggi kekuatan iman. Ketika seorang mukmin mencapai keadaan seperti ini, kengerian kufr (kekafiran) menjadi begitu menjijikkan sehingga siksaan fisik dalam api tampak lebih disukai daripada kehancuran spiritual melalui kemurtadan.

Ibn Hajar al-Asqalani menjelaskan dalam Fath al-Bari bahwa kondisi ini menunjukkan transformasi lengkap sistem nilai seseorang, di mana integritas spiritual lebih diutamakan daripada semua pertimbangan duniawi, termasuk keselamatan dan kenyamanan fisik.

Kondisi Ketiga: Cinta Tertinggi untuk Allah dan Rasul-Nya

"Sampai Allah dan Rasul-Nya menjadi lebih dicintai olehnya daripada apa pun" - Ini mewakili puncak iman di mana cinta kepada Yang Ilahi dan Rasul-Nya melampaui semua keterikatan duniawi - termasuk kekayaan, keluarga, dan bahkan diri sendiri. Para ulama menekankan bahwa cinta ini harus terwujud dalam ketaatan sepenuhnya, mengikuti Sunnah, dan memprioritaskan apa yang dicintai Allah dan Rasul-Nya di atas keinginan pribadi.

Al-Qurtubi mencatat bahwa kondisi ini mencakup dua kondisi sebelumnya, karena ketika Allah dan Rasul-Nya menjadi yang paling dicintai, semua cinta dan kebencian lainnya secara alami selaras dengan kehendak ilahi, menghasilkan kemanisan iman yang lengkap yang meresap ke dalam seluruh keberadaan seseorang.