حَدَّثَنَا عَلِيُّ بْنُ مُحَمَّدٍ، حَدَّثَنَا وَكِيعٌ، عَنْ أَبِي يَحْيَى الطَّوِيلِ، - رَجُلٌ مِنْ أَهْلِ الْكُوفَةِ - عَنْ زَيْدٍ الْعَمِّيِّ، عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ، قَالَ كَانَ النَّبِيُّ ـ صلى الله عليه وسلم ـ إِذَا لَقِيَ الرَّجُلَ فَكَلَّمَهُ لَمْ يَصْرِفْ وَجْهَهُ عَنْهُ حَتَّى يَكُونَ هُوَ الَّذِي يَنْصَرِفُ وَإِذَا صَافَحَهُ لَمْ يَنْزِعْ يَدَهُ مِنْ يَدِهِ حَتَّى يَكُونَ هُوَ الَّذِي يَنْزِعُهَا وَلَمْ يُرَ مُتَقَدِّمًا بِرُكْبَتَيْهِ جَلِيسًا لَهُ قَطُّ ‏.‏
Terjemahan
Diriwayatkan bahwa Anas bin Malik mengatakan

"Setiap kali Nabi (ﷺ) bertemu dengan seorang pria, dia akan berbicara kepadanya, dan tidak akan menjauh sampai dia (orang lain) yang berpaling. Dan jika dia berjabat tangan dengannya, dia tidak akan menarik tangannya sampai dia (orang lain) menarik tangannya. Dan dia tidak pernah terlihat duduk dengan lutut di depan lutut orang yang duduk di sebelahnya."