وَعَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا قَالَتْ: كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذْ افْتَتَحَ الصَّلَاةَ قَالَ: «سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ وَبِحَمْدِكَ وَتَبَارَكَ اسْمُكَ وَتَعَالَى جَدُّكَ وَلَا إِلَهَ غَيْرُكَ» . رَوَاهُ التِّرْمِذِيّ وَأَبُو دَاوُد وَرَوَاهُ ابْنُ مَاجَهْ عَنْ أَبِي سَعِيدٍ وَقَالَ التِّرْمِذِيُّ: هَذَا حَدِيثٌ لَا نَعْرِفُهُ إِلَّا مِنْ حَدِيثِ حَارِثَةَ وَقَدْ تُكُلِّمَ فِيهِ مِنْ قِبَلِ حفظه
Terjemahan

Jubair b. Mut'im berkata bahwa dia melihat Rasulullah melaksanakan shalat di mana dia berkata, “Tuhan itu besar, Allah Maha Besar, Allah Maha Besar. Pujilah Allah dalam kelimpahan; puji bagi Allah yang berlimpah; puji bagi Allah yang berlimpah. Maha Suci Allah di pagi dan sore hari (mengatakannya tiga kali). Aku berlindung kepada Allah dari setan yang terkutuk, dari nafkh (nafkh), sihirnya (nafth) 1, dan saran jahatnya (hamz) 2.” Secara harfiah 'sputtering', tetapi digunakan untuk bekerja sihir dengan menyemburkan simpul. Blih Qur'an, 113:4.2. Untuk makna ini lih Qur'an, 23:97. Abu Dawud mengirimkannya, seperti yang dilakukan Ibnu Majah, tetapi dia tidak menyebutkan, “Puji bagi Allah dalam kelimpahan,” dan dia menyebutkan di akhir itu “dari iblis terkutuk.” Umar berkata bahwa nafkhnya adalah kebanggaan, nafth adalah puisi, dan hamznya adalah kegilaan.