Kesucian istri-istri Mujahidin, dan dosa orang yang mengkhianati mereka sehubungan dengan mereka Sahih Muslim 1897 a

Teks hadis bahasa Arab
حَدَّثَنَا أَبُو بَكْرِ بْنُ أَبِي شَيْبَةَ، حَدَّثَنَا وَكِيعٌ، عَنْ سُفْيَانَ، عَنْ عَلْقَمَةَ بْنِ مَرْثَدٍ، عَنْ سُلَيْمَانَ بْنِ بُرَيْدَةَ، عَنْ أَبِيهِ، قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم ‏"‏حُرْمَةُ نِسَاءِ الْمُجَاهِدِينَ عَلَى الْقَاعِدِينَ كَحُرْمَةِ أُمَّهَاتِهِمْ وَمَا مِنْ رَجُلٍ مِنَ الْقَاعِدِينَ يَخْلُفُ رَجُلاً مِنَ الْمُجَاهِدِينَ فى أَهْلِهِ فَيَخُونُهُ فِيهِمْ إِلاَّ وُقِفَ لَهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ فَيَأْخُذُ مِنْ عَمَلِهِ مَا شَاءَ فَمَا ظَنُّكُمْ ‏"‏ ‏.‏
Terjemahan
Telah diriwayatkan tentang kewibawaan Sulaimin b. Buraida yang mempelajari tradisi tersebut dari ayahnya. Yang terakhir mengatakan bahwa Rasulullah (صلى الله عليه وسلم) berkata

Kesucian istri-istri Mujahid seperti kesucian ibu-ibu mereka bagi mereka yang duduk di rumah (yaitu tidak keluar untuk berjihad). Siapa pun yang tinggal menjaga keluarga seorang Mujahid dan mengkhianati kepercayaannya akan dibuat untuk berdiri pada hari kiamat di hadapan Mujahid yang akan mengambil dari amal jasanya apa pun yang dia suka. Jadi bagaimana menurut Anda (apakah dia akan meninggalkan sesuatu)?