Kebajikan penguasa yang adil dan hukuman seorang tiran; Dorongan untuk memperlakukan orang-orang di bawah otoritas seseorang dengan kebaikan hati dan larangan untuk menyebabkan mereka kesulitan Sahih Muslim 1829 b, c
Teks hadis bahasa Arab
وَحَدَّثَنَا أَبُو بَكْرِ بْنُ أَبِي شَيْبَةَ، حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ بِشْرٍ، ح وَحَدَّثَنَا ابْنُ نُمَيْرٍ، حَدَّثَنَا أَبِي ح، وَحَدَّثَنَا ابْنُ الْمُثَنَّى، حَدَّثَنَا خَالِدٌ يَعْنِي ابْنَ الْحَارِثِ، ح وَحَدَّثَنَا عُبَيْدُ اللَّهِ بْنُ سَعِيدٍ، حَدَّثَنَا يَحْيَى، - يَعْنِي الْقَطَّانَ - كُلُّهُمْ عَنْ عُبَيْدِ اللَّهِ بْنِ عُمَرَ، ح وَحَدَّثَنَا أَبُو الرَّبِيعِ، وَأَبُو كَامِلٍ قَالاَ حَدَّثَنَا حَمَّادُ بْنُ زَيْدٍ، ح وَحَدَّثَنِي زُهَيْرُ بْنُ حَرْبٍ، حَدَّثَنَا إِسْمَاعِيلُ، جَمِيعًا عَنْ أَيُّوبَ، ح وَحَدَّثَنِي مُحَمَّدُ بْنُ رَافِعٍ، حَدَّثَنَا ابْنُ أَبِي فُدَيْكٍ، أَخْبَرَنَا الضَّحَّاكُ، - يَعْنِي ابْنَ عُثْمَانَ - ح وَحَدَّثَنَا هَارُونُ بْنُ سَعِيدٍ الأَيْلِيُّ، حَدَّثَنَا ابْنُ وَهْبٍ، حَدَّثَنِي أُسَامَةُ، كَلُّ هَؤُلاَءِ عَنْ نَافِعٍ، عَنِ ابْنِ عُمَرَ، مِثْلَ حَدِيثِ اللَّيْثِ عَنْ نَافِعٍ، .
قَالَ أَبُو إِسْحَاقَ حَدَّثَنَا الْحَسَنُ بْنُ بِشْرٍ، حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ نُمَيْرٍ، عَنْ عُبَيْدِ اللَّهِ، عَنْ نَافِعٍ، عَنِ ابْنِ عُمَرَ، بِهَذَا مِثْلَ حَدِيثِ اللَّيْثِ عَنْ نَافِعٍ، .
Terjemahan
Tradisi ini telah diceritakan melalui lebih banyak lagi; daripada satu rantai pemancar.
Buku tentang Pemerintahan - Sahih Muslim 1829 b, c
Tradisi ini telah diriwayatkan melalui lebih dari satu rantai periwayat, menunjukkan keasliannya yang kuat dan berbagai jalur verifikasi dalam ilmu keislaman.
Komentar Ilmiah
Penyebutan berbagai rantai transmisi (turuq) menandakan tingkat keandalan tertinggi dalam ilmu hadis. Ketika sebuah tradisi dilaporkan melalui berbagai saluran independen dengan periwayat yang terpercaya, ia mencapai status mutawatir atau mashhur, memberikan kepastian dalam atribusinya kepada Nabi Muhammad (semoga damai besertanya).
Kemajemukan jalur transmisi ini berfungsi sebagai mekanisme pelestarian ilahi, memastikan ajaran otentik Islam tetap tidak terkorupsi melalui generasi. Ulama hadis seperti Imam Muslim dengan cermat mendokumentasikan berbagai rantai ini untuk membuktikan keabsahan tradisi kenabian.
Pemeriksaan hati-hati terhadap karakter, ingatan, dan kemungkinan kronologis setiap periwayat membentuk ilmu al-jarh wa al-ta'dil, melalui mana umat membedakan laporan otentik dari yang lemah.