Kewajiban menaati pemimpin dalam hal-hal yang tidak melibatkan dosa, tetapi dilarang menaati mereka dalam hal-hal berdosa Sahih Muslim 1837 a

Teks hadis bahasa Arab
وَحَدَّثَنَا أَبُو بَكْرِ بْنُ أَبِي شَيْبَةَ، وَعَبْدُ اللَّهِ بْنُ بَرَّادٍ الأَشْعَرِيُّ، وَأَبُو كُرَيْبٍ قَالُوا حَدَّثَنَا ابْنُ إِدْرِيسَ، عَنْ شُعْبَةَ، عَنْ أَبِي عِمْرَانَ، عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ الصَّامِتِ، عَنْ أَبِي ذَرٍّ، قَالَ إِنَّخَلِيلِي أَوْصَانِي أَنْ أَسْمَعَ وَأُطِيعَ وَإِنْ كَانَ عَبْدًا مُجَدَّعَ الأَطْرَافِ ‏.‏
Terjemahan
Telah diriwayatkan tentang otoritas Abu Dharr yang mengatakan

Teman saya (yaitu Nabi Suci) menyarankan saya untuk mendengarkan (orang yang berwenang) dan menaati (dia) bahkan jika dia adalah budak yang cacat (dan cacat).