Sesungguhnya matahari dan bulan tidak gerhana karena kematian atau nyawa siapapun. Mereka sebenarnya adalah tanda-tanda di antara tanda-tanda Allah. Jadi ketika Anda melihatnya, perhatikanlah doa.
Kitab Doa - Gerhana
Sahih Muslim 914
Teks Hadis
Sesungguhnya matahari dan bulan tidak gerhana karena kematian atau kehidupan seseorang. Mereka sebenarnya adalah tanda-tanda di antara tanda-tanda Allah. Maka ketika kamu melihatnya, laksanakanlah shalat.
Komentar tentang Signifikansi Astronomi
Hadis mulia ini menetapkan bahwa gerhana adalah fenomena alam yang diatur oleh hukum ilahi, bukan peristiwa gaib yang disebabkan oleh urusan manusia. Nabi ﷺ secara tegas membantah kepercayaan Arab pra-Islam bahwa gerhana terjadi karena kematian tokoh penting. Ajaran ini menyelaraskan pengamatan ilmiah dengan monoteisme Islam, menegaskan bahwa benda langit mengikuti pola ilahi yang tepat yang ditetapkan oleh hikmah Allah.
Tanggapan Spiritual terhadap Gerhana
Perintah untuk shalat selama gerhana mengubah peristiwa alam menjadi kesempatan untuk refleksi spiritual dan ibadah. Shalat ini (salat al-kusuf) memiliki beberapa tujuan: mengingatkan orang beriman akan kekuasaan mutlak Allah atas ciptaan, mendorong kerendahan hati di hadapan tanda-tanda ilahi, dan mengalihkan perhatian ke Akhirat. Shalat gerhana berbeda dari shalat biasa dalam bacaannya yang diperpanjang dan rukuk serta sujud yang lama, mencerminkan kesungguhan kesempatan tersebut.
Implikasi Teologis
Dengan menyatakan gerhana sebagai "tanda-tanda di antara tanda-tanda Allah," Nabi ﷺ menetapkan kosmologi Islam di mana fenomena alam menunjuk pada realitas ilahi. Perspektif ini mendorong Muslim untuk mempelajari ciptaan sebagai sarana mengenal Sang Pencipta sambil mempertahankan pemahaman teologis yang tepat. Hadis ini menunjukkan pendekatan Islam yang seimbang terhadap fenomena alam - tidak mengaitkannya dengan takhayul maupun memisahkannya dari signifikansi spiritualnya.