Saya mendengar Mughira b. Shu'ba mengatakan bahwa matahari gerhana selama masa hidup Rasulullah (صلى الله عليه وسلم) pada hari ketika Ibrahim wafat. Atas hal ini Rasulullah (صلى الله عليه وسلم) bersabda: Sesungguhnya matahari dan bulan adalah dua tanda di antara tanda-tanda Allah. Mereka tidak melampaui karena kematian siapa pun atau karena kelahiran siapa pun. Maka apabila kamu melihatnya, berdoalah kepada Allah dan solat sholat sampai selesai.
Kitab Doa - Gerhana
Sahih Muslim 915 - Komentar oleh Imam An-Nawawi
Latar Belakang Kontekstual
Hadis ini terjadi ketika matahari mengalami gerhana pada hari yang sama putra Nabi Muhammad, Ibrahim, meninggal. Beberapa sahabat keliru mengaitkan gerhana dengan kematian, memicu klarifikasi ilahi ini.
Tanda-Tanda Kosmis Allah
Nabi secara tegas menolak kepercayaan pra-Islam bahwa fenomena langit berkaitan dengan kelahiran atau kematian manusia. Beliau menetapkan bahwa gerhana murni termasuk tanda-tanda Allah - menunjukkan kekuatan dan kebijaksanaan-Nya yang sempurna dalam mengatur tatanan kosmis.
Respons Spiritual terhadap Gerhana
Respons yang ditetapkan menggabungkan doa (permohonan) dan salat (sholat), mengubah fenomena alam menjadi kesempatan untuk pembaruan spiritual. Ini mengalihkan perhatian dari interpretasi takhayul ke penyembahan yang tulus kepada Sang Pencipta.
Keputusan Hukum
Para ulama sepakat bahwa sholat selama gerhana adalah Sunnah yang dikukuhkan (Sunnah Mu'akkadah). Sholat berlanjut sepanjang durasi gerhana, berfungsi sebagai pengingat bersama akan keagungan Allah dan penolakan terhadap takhayul astrologi.