Adalah wajib bagi Anda untuk mengatakan kebenaran, karena kebenaran mengarah pada kebajikan dan kebajikan mengarah pada Firdaus, dan orang yang terus mengatakan kebenaran dan berusaha untuk mengatakan kebenaran akhirnya dicatat sebagai benar di hadapan Allah, dan berhati-hatilah terhadap kebohongan karena mengatakan kebohongan mengarah pada kecabulan dan kecabulan mengarah pada Api Neraka. dan orang yang terus berbohong dan berusaha berbohong dicatat sebagai pendusta di hadapan Allah.
Teks Hadis
Wajib bagi Anda untuk mengatakan kebenaran, karena kebenaran menuntun pada kebajikan dan kebajikan menuntun pada Surga, dan orang yang terus berbicara benar dan berusaha mengatakan kebenaran akhirnya dicatat sebagai orang yang jujur dengan Allah, dan berhati-hatilah dalam mengatakan kebohongan karena mengatakan kebohongan menuntun pada kekejian dan kekejian menuntun pada Neraka, dan orang yang terus berbohong dan berusaha mengatakan kebohongan dicatat sebagai pembohong dengan Allah.
Referensi Sumber
Kitab Kebajikan, Menyuruh Akhlak Baik, dan Menyambung Tali Silaturahmi
Sahih Muslim
Sahih Muslim 2607 c
Komentar Ilmiah
Hadis mulia ini menetapkan prinsip dasar etika Islam: keharusan kejujuran dan larangan kebohongan. Nabi ﷺ menggunakan kausalitas spiritual yang mendalam, menunjukkan bagaimana pilihan moral menciptakan lintasan spiritual yang berujung pada konsekuensi abadi.
Kejujuran (siddiq) disajikan bukan hanya sebagai rekomendasi moral tetapi sebagai kewajiban (wajib) yang memulai reaksi berantai ilahi: kebenaran → kebajikan (birr) → Surga. Birr mencakup semua bentuk kebenaran dan keunggulan moral, menunjukkan bahwa kejujuran adalah fondasi di mana semua kebajikan lain dibangun.
Sebaliknya, kebohongan memulai lintasan berlawanan: berbohong → kekejian (fujur) → Neraka. Fujur mengacu pada korupsi moral, kelancangan, dan pelanggaran batas-batas yang ditetapkan secara ilahi, menunjukkan bagaimana satu kebohongan dapat merusak seluruh karakter moral seseorang.
Hadis ini menekankan dokumentasi ilahi karakter manusia - mereka yang terus-menerus memilih kebenaran dicatat sebagai "jujur" (siddiq) dengan Allah, sementara pembohong kebiasaan dicatat sebagai "pembohong" (kadhdhab). Pencatatan ini mencerminkan bukan hanya tindakan individu tetapi pembentukan karakter esensial (khuluq) dalam register ilahi.
Implikasi Praktis
Para ulama menjelaskan bahwa hadis ini mengharuskan Muslim untuk memverifikasi informasi sebelum berbicara, menghindari berlebihan, menepati janji, dan menjaga kejujuran dalam semua transaksi.
Psikologi spiritual di sini mendalam: kejujuran membawa ketenangan dan cahaya ke hati, sementara berbohong menciptakan kegelapan dan kegelisahan dalam jiwa, membuat lebih mudah untuk melakukan dosa lebih lanjut.
Ajaran ini melampaui pernyataan verbal untuk mencakup kejujuran dalam niat, tindakan, dan keadaan - menyelaraskan perilaku luar dengan realitas batin.