Seorang Arab gurun datang kepada Rasulullah (صلى الله عليه وسلم) dan berkata: Istriku telah melahirkan seorang anak berkulit gelap dan aku telah menyangkalnya. Lalu Rasul Allah (صلى الله عليه وسلم) berkata: Apakah kamu ada unta? Dia berkata: Ya. Dia berkata: Apa warna mereka? Katanya? Mereka berwarna merah. Dia berkata: Apakah ada orang yang gelap di antara mereka? Dia berkata: Ya. Rasulullah (صلى الله عليه وسلم) berkata: Bagaimana hal itu terjadi? Dia berkata: "Rasulullah, mungkin karena ketegangan yang telah dikembalikan, di mana Nabi (صلى الله عليه وسلم) bersabda: Itu (kelahiran) anak kulit hitam mungkin karena ketegangan yang mungkin telah dikembalikannya (anak itu).
Kitab Mengutuk - Sahih Muslim 1500 c
Seorang Arab badui datang kepada Rasulullah (ﷺ) dan berkata: Istri saya telah melahirkan anak yang berkulit gelap dan saya telah menolaknya. Kemudian Rasulullah (ﷺ) berkata: Apakah kamu memiliki unta? Dia berkata: Ya. Dia berkata: Apa warna mereka? Dia berkata: Mereka merah. Dia berkata: Apakah ada yang gelap di antara mereka? Dia berkata: Ya. Rasulullah (ﷺ) berkata: Bagaimana itu bisa terjadi? Dia berkata: Rasulullah, mungkin itu karena keturunan yang telah kembali, lalu Nabi (ﷺ) berkata: Kelahiran anak hitam mungkin disebabkan oleh keturunan yang mungkin telah kembali padanya (anak itu).
Komentar Ilmiah
Hadis yang mendalam dari Sahih Muslim ini menunjukkan kebijaksanaan Nabi dalam menangani masalah sosial dan biologis yang kompleks. Penolakan langsung Arab badui terhadap anaknya yang berkulit gelap mencerminkan ketidaktahuan pra-Islam mengenai warisan genetik.
Metode Nabi menggunakan analogi unta - makhluk yang dikenal baik oleh orang Badui - mengilustrasikan kebijaksanaan pedagogis ilahi. Sama seperti unta merah dapat menghasilkan keturunan gelap karena sifat leluhur ("keturunan" yang disebut dalam bahasa Arab sebagai "'irq"), anak manusia dapat mewarisi karakteristik dari nenek moyang yang jauh.
Ajaran ini menetapkan prinsip-prinsip Islam yang penting: larangan menuduh wanita suci tanpa dasar, pemahaman tentang warisan genetik, dan penolakan rasisme berdasarkan warna kulit. Nabi dengan lembut memperbaiki ketidaktahuan pria itu tanpa kekasaran, membimbingnya menuju pemahaman yang benar tentang penciptaan ilahi.
Istilah "kembali ke keturunan" merujuk pada atavisme dalam terminologi modern - kemunculan kembali karakteristik leluhur yang terlewat dalam generasi langsung. Ini menunjukkan kesesuaian Islam dengan kebenaran ilmiah berabad-abad sebelum genetika modern.