وَحَدَّثَنِي حَرْمَلَةُ بْنُ يَحْيَى، أَخْبَرَنَا ابْنُ وَهْبٍ، أَخْبَرَنِي يُونُسُ، عَنِ ابْنِ شِهَابٍ، حَدَّثَنِي ابْنُ الْمُسَيَّبِ، عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ، قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم ‏"‏ إِنَّ الْمَرْأَةَ كَالضِّلَعِ إِذَا ذَهَبْتَ تُقِيمُهَا كَسَرْتَهَا وَإِنْ تَرَكْتَهَا اسْتَمْتَعْتَ بِهَا وَفِيهَا عِوَجٌ ‏"‏ ‏.‏
Terjemahan
Abu Huraira (Allah ridha kepadanya) melaporkan Rasulullah (صلى الله عليه وسلم) bersabda

Wanita itu seperti tulang rusuk. Ketika Anda mencoba meluruskannya, Anda akan mematahkannya. Dan jika Anda meninggalkannya sendirian, Anda akan mendapat manfaat darinya, dan kebengkokan akan tetap ada dalam dirinya.

Comment

Teks dan Konteks Hadis

Nabi Muhammad (semoga damai besertanya) bersabda: "Wanita itu seperti tulang rusuk. Ketika kamu berusaha meluruskannya, kamu akan mematahkannya. Dan jika kamu membiarkannya sendiri, kamu akan mendapat manfaat darinya, dan kelengkungan akan tetap ada padanya." (Sahih al-Bukhari 5184, Sahih Muslim 715)

Interpretasi Metaforis

Hadis mulia ini menggunakan metafora tulang rusuk yang melengkung untuk menggambarkan watak alami dan sifat bawaan wanita. Seperti halnya tulang rusuk memiliki kelengkungan alami yang tidak dapat diluruskan secara paksa tanpa menyebabkan kerusakan, begitu pula seorang wanita memiliki kualitas bawaan, komposisi emosional, dan susunan psikologis yang merupakan bagian dari penciptaan ilahinya.

"Kelengkungan" yang disebutkan bukanlah cacat atau kekurangan, melainkan merujuk pada sifat feminin unik yang berbeda dari sifat maskulin. Perbedaan ini adalah berdasarkan desain dan kebijaksanaan ilahi, melengkapi peran pria dan wanita dalam masyarakat dan kehidupan keluarga.

Komentar Ilmiah

Imam Ibn Hajar al-Asqalani menjelaskan dalam Fath al-Bari bahwa hadis ini menasihati pria untuk memperlakukan wanita dengan kebijaksanaan, kelembutan, dan pemahaman terhadap sifat mereka. Berusaha "meluruskan" seorang wanita berarti mencoba memaksanya untuk meninggalkan watak alaminya dan menyesuaikan diri sepenuhnya dengan standar atau harapan maskulin.

Imam al-Nawawi menyatakan dalam komentarnya tentang Sahih Muslim bahwa manfaat datang dari menerima sifatnya dan bekerja dengannya daripada melawannya. "Kelengkungan yang tetap" menunjukkan bahwa seseorang tidak boleh mengharapkan kesempurnaan dalam urusan duniawi, melainkan fokus pada manfaat yang lebih besar dari hubungan tersebut.

Panduan Praktis

Ajaran ini menekankan pentingnya kesabaran, toleransi, dan konseling lembut dalam hubungan pernikahan. Daripada kritik keras atau upaya untuk mengubah pasangan secara fundamental, pendekatan yang bijaksana adalah membimbing dengan kebaikan sambil menerima perbedaan bawaan.

Hadis ini mendorong pria untuk menghargai kualitas unik yang dibawa wanita ke dalam hubungan dan masyarakat, menyadari bahwa perbedaan ini adalah bagian dari ciptaan Allah yang sempurna dan harus dihormati, bukan dihilangkan.

Peringatan Salah Tafsir

Hadis ini tidak boleh disalahartikan sebagai saran bahwa wanita lebih rendah atau cacat secara fundamental. Sebaliknya, ini mengakui perbedaan komplementer antara gender. Baik pria maupun wanita memiliki kekuatan dan tantangan unik mereka sendiri, dan keduanya membutuhkan pengertian dan akomodasi dalam hubungan.