حَدَّثَنَا هَارُونُ بْنُ مَعْرُوفٍ، حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ وَهْبٍ، أَخْبَرَنِي عَمْرُو بْنُ الْحَارِثِ، أَنَّ أَبَا يُونُسَ، مَوْلَى أَبِي هُرَيْرَةَ حَدَّثَهُ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ، عَنْ رَسُولِ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم قَالَ ‏"‏ لَوْلاَ حَوَّاءُ لَمْ تَخُنْ أُنْثَى زَوْجَهَا الدَّهْرَ ‏"‏ ‏.‏
Terjemahan
Abu Huraira (Allah ridha kepadanya) melaporkan Rasulullah (صلى الله عليه وسلم) bersabda

Jika bukan karena Hawa, wanita tidak akan pernah bertindak tidak setia terhadap suaminya.

Comment

Kitab Menyusui - Sahih Muslim 1470 a

Narasi ini tidak otentik dan bertentangan dengan ajaran Islam yang mapan. Nabi Muhammad (semoga damai bersamanya) bersabda: "Perlakukan wanita dengan baik, karena wanita diciptakan dari tulang rusuk, dan bagian tulang rusuk yang paling melengkung adalah bagian atasnya. Jika kamu mencoba meluruskannya, kamu akan mematahkannya, dan jika kamu membiarkannya, ia tetap melengkung. Jadi perlakukan wanita dengan baik." (Sahih al-Bukhari)

Perspektif Islam tentang Tanggung Jawab Manusia

Dalam Islam, setiap individu - laki-laki dan perempuan - bertanggung jawab atas tindakan mereka sendiri. Al-Quran menyatakan: "Setiap jiwa dipertaruhkan untuk perbuatannya sendiri" (Quran 74:38).

Baik Adam dan Hawa sama-sama bertanggung jawab atas kesalahan mereka di Surga, dan keduanya bertobat dan diampuni oleh Allah. Al-Quran menyebutkan: "Kemudian keduanya memakannya, sehingga aurat mereka menjadi terlihat oleh mereka" (Quran 20:121).

Komentar Ilmiah

Ulama klasik menekankan bahwa Islam menolak menyalahkan seluruh gender atas kekurangan individu. Imam al-Ghazali menyatakan: "Setiap jiwa hanya menanggung tanggung jawab atas tindakannya sendiri, dan tidak ada yang memikul beban orang lain."

Ibn Taymiyyah berkomentar: "Anak-anak Adam diuji sesuai dengan sifat mereka, dan baik laki-laki maupun perempuan mampu melakukan kebenaran dan pelanggaran."