Ini adalah beberapa hadits yang diriwayatkan oleh Abu Huraira (Allah 'an allahu ihir) kepada kita dari Rasulullah (صلى الله عليه وسلم), dan salah satunya (yang ini): Rasulullah (صلى الله عليه وسلم) bersabda: Seandainya bukan karena Bani Isra'il, makanan tidak akan menjadi basi, dan makanan tidak akan menjadi busuk; dan seandainya bukan karena Hawa, seorang wanita tidak akan pernah bertindak tidak setia terhadap suaminya.
Kitab Menyusui - Sahih Muslim 1470 b
Ini adalah beberapa hadis yang Abu Huraira (semoga Allah meridhainya) sampaikan kepada kami dari Rasulullah (ﷺ), dan salah satunya (yang ini): Rasulullah (ﷺ) bersabda: Seandainya bukan karena Bani Isra'il, makanan tidak akan menjadi basi, dan hidangan tidak akan rusak; dan seandainya bukan karena Hawa, seorang wanita tidak akan pernah berkhianat terhadap suaminya.
Komentar Ilmiah
Hadis ini menggunakan contoh sejarah untuk menggambarkan prinsip ketidaksempurnaan manusia dan penularan sifat-sifat tertentu. Referensi kepada Bani Isra'il (Anak-anak Israel) merujuk pada praktik mereka menimbun manna dan burung puyuh melebihi kebutuhan harian, yang menyebabkan pembusukan, menetapkan ini sebagai konsekuensi alami dari keserakahan dan kurangnya kepercayaan pada penyediaan ilahi.
Penyebutan Hawa (damai atasnya) merujuk pada insiden primordial di Surga di mana dia ditipu oleh Setan, mengarah pada pengenalan ketidaktaatan. Ini menetapkan bahwa potensi penipuan dan kesalahan ada dalam sifat manusia, khususnya menggambarkan bagaimana wanita mungkin rentan terhadap tindakan yang melanggar kepercayaan pernikahan.
Nabi (ﷺ) menggunakan contoh-contoh ini bukan untuk mengutuk tokoh-tokoh ini secara mutlak, tetapi untuk menjelaskan asal-usul fenomena duniawi tertentu dan kelemahan moral. Kebijaksanaannya terletak pada memahami ini sebagai kisah peringatan tentang konsekuensi ketidaktaatan dan pentingnya mematuhi bimbingan ilahi.
Implikasi Hukum dan Moral
Narasi ini tidak menyiratkan bahwa semua wanita pada dasarnya tidak setia, melainkan menjelaskan asal-usul ujian moral khusus ini. Yurisprudensi Islam mempertahankan bahwa setiap individu bertanggung jawab atas tindakan mereka sendiri terlepas dari preseden sejarah.
Ajaran ini mendorong orang beriman untuk belajar dari kesalahan komunitas masa lalu dan menumbuhkan kepercayaan pada penyediaan Allah daripada menimbun karena takut kelangkaan.