حَدَّثَنَا أَبُو الرَّبِيعِ، سُلَيْمَانُ بْنُ دَاوُدَ الْعَتَكِيُّ حَدَّثَنَا حَمَّادٌ، - يَعْنِي ابْنَ زَيْدٍ - حَدَّثَنَا أَيُّوبُ، وَهِشَامٌ، عَنْ مُحَمَّدٍ، عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ، قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم ‏"‏ مَنْ رَآنِي فِي الْمَنَامِ فَقَدْ رَآنِي فَإِنَّ الشَّيْطَانَ لاَ يَتَمَثَّلُ بِي ‏"‏ ‏.‏
Terjemahan
Abu Huraira melaporkan

Aku mendengar Rasulullah (صلى الله عليه وسلم) bersabda: Barangsiapa melihatku dalam mimpi akan segera melihatku dalam keadaan terjaga, atau seolah-olah ia melihatku dalam keadaan terjaga, karena setan tidak muncul dalam wujudku.

Comment

Kitab Mimpi - Sahih Muslim 2266 b

Saya mendengar Rasulullah (ﷺ) bersabda: Barangsiapa melihatku dalam mimpi, dia akan segera melihatku dalam keadaan terjaga, atau seolah-olah dia melihatku dalam keadaan terjaga, karena setan tidak muncul dalam wujudku.

Komentar tentang Hadis

Hadis mulia ini menetapkan status khusus melihat Nabi Muhammad (ﷺ) dalam mimpi. Pernyataan "dia akan segera melihatku dalam keadaan terjaga" telah ditafsirkan oleh para ulama dalam dua cara: baik si pemimpi akan melihat Nabi di akhirat, atau itu menunjukkan kebenaran dari penglihatan tersebut.

Frasa "karena setan tidak muncul dalam wujudku" memberikan kriteria penting untuk mengautentikasi mimpi seperti itu. Para ulama menjelaskan bahwa Setan tidak mampu meniru secara sempurna wujud dan karakteristik Nabi yang diberkati. Ini berfungsi sebagai perlindungan ilahi bagi umat terhadap penipuan dalam hal-hal yang penting secara spiritual.

Imam Nawawi berkomentar bahwa hadis ini menunjukkan kehormatan yang diberikan kepada mereka yang melihat Nabi dalam mimpi dan mengonfirmasi sifat khusus dari penglihatan tersebut dibandingkan dengan mimpi biasa.

Tafsiran Ulama

Para ulama klasik telah berbeda pendapat mengenai arti "melihat dalam keadaan terjaga." Beberapa menafsirkannya secara harfiah sebagai melihat Nabi di dunia ini sebelum kematian, sementara kebanyakan memahaminya sebagai melihatnya di akhirat atau mengalami kehadiran spiritualnya.

Ibn Hajar al-Asqalani menekankan bahwa ketidakmampuan Setan untuk meniru wujud Nabi adalah perlindungan ilahi khusus yang unik bagi Muhammad (ﷺ), membedakan penglihatan sejatinya dari yang palsu.

Hadis ini memberikan kenyamanan kepada orang beriman bahwa penglihatan asli tentang Nabi adalah mungkin dan dilindungi dari gangguan setan, berfungsi sebagai sarana koneksi spiritual dengan Rasulullah.