Dia yang melihatku dalam mimpi sebenarnya melihatku, karena Setan tidak dapat mengambil bentukku.
Kitab Mimpi - Sahih Muslim 2268 b
Dengan nama Allah, Yang Maha Pengasih, Maha Penyayang. Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam, dan semoga damai dan berkah tercurah kepada Rasul-Nya yang terakhir, Muhammad.
Analisis Teks
Hadis mulia menyatakan: "Barangsiapa melihatku dalam mimpi, sesungguhnya ia benar-benar melihatku, karena setan tidak dapat menyerupai wujudku." Pernyataan mendalam dari Nabi (semoga damai dan berkah tercurah kepadanya) ini menetapkan prinsip mendasar mengenai penglihatan terhadap pribadinya yang diberkati dalam mimpi.
Frasa "sesungguhnya ia benar-benar melihatku" menunjukkan realitas dan keaslian penglihatan semacam itu. Ini bukan sekadar imajinasi atau khayalan, melainkan pertemuan spiritual sejati yang diberikan oleh rahmat Allah.
Perlindungan Ilahi
Bagian terakhir "karena setan tidak dapat menyerupai wujudku" mengungkapkan perlindungan ilahi yang mengelilingi kesucian Nabi. Setan dicegah oleh ketetapan Allah untuk meniru penampilan Nabi, sehingga memastikan bahwa setiap mimpi yang menampilkan wujud Nabi yang dapat dikenali adalah asli.
Perlindungan ini melampaui masa hidup fisiknya, menunjukkan kehormatan abadi yang Allah anugerahkan kepada Rasul-Nya.
Interpretasi Ulama
Menurut Imam Nawawi dalam komentarnya tentang Sahih Muslim, hadis ini berlaku khusus untuk melihat Nabi dalam wujudnya yang dikenal dan dapat dikenali. Jika pemimpi melihat seseorang yang mengaku sebagai Nabi tetapi tampil berbeda, para ulama berbeda pendapat dalam interpretasinya.
Ibn Hajar al-Asqalani mencatat bahwa perlindungan khusus ini membedakan Nabi Muhammad dari nabi-nabi dan orang-orang saleh lainnya, yang mungkin ditiru oleh setan dalam mimpi.
Signifikansi Spiritual
Mimpi semacam itu dianggap sebagai kabar gembira dan kehormatan besar bagi orang beriman. Mereka memperkuat iman dan memberikan kenyamanan spiritual, berfungsi sebagai penghubung dengan Nabi meskipun terpisah secara temporal.
Para ulama menekankan bahwa penglihatan ini tidak setara dengan melihat Nabi secara fisik selama hidupnya, melainkan mewakili kategori khusus dari karunia ilahi.
Implikasi Praktis
Ketika seorang beriman mengalami mimpi seperti itu, mereka harus bersyukur kepada Allah dan meningkatkan pengiriman berkah kepada Nabi. Mereka dapat membagikannya dengan orang-orang yang berpengetahuan untuk interpretasi yang tepat tetapi harus menghindari deskripsi rinci tentang ciri-ciri Nabi.
Hadis ini membawa kenyamanan bagi Ummat, meyakinkan mereka bahwa hubungan spiritual mereka dengan Nabi tetap terlindungi dan otentik melalui ketetapan ilahi.