Ketika Rasul Allah (صلى الله عليه وسلم) menikah dengan Zainab (Allah berkenan dengan taruhan), Umm Sulaim mengiriminya topi dalam bejana batu sebagai hadiah. Anas menyatakan bahwa Rasulullah (صلى الله عليه وسلم) berkata kepadanya: Pergilah dan undanglah atas namaku semua Muslim yang kamu temui. Jadi saya mengundang atas namanya semua orang yang saya temui. Mereka masuk ke dalam (rumahnya) dan mereka makan dan keluar. Dan Rasulullah (صلى الله عليه وسلم) telah memegang makanan, dan dia memohon keberkatan atas hal itu, dan mengatakan apa pun yang Allah inginkan untuk dia katakan, dan tidak ada yang saya temui yang ditinggalkan tanpa diundang. Mereka makan kenyang dan keluar, tetapi sekelompok di antara mereka tetap di sana dan terlibat dalam diskusi yang panjang. Rasul Allah (صلى الله عليه وسلم) merasa malu untuk mengatakan apa pun kepada mereka. Maka dia keluar dan meninggalkan mereka di rumahnya dan Allah Yang Maha Mulia menyatakan ayat ini: "0 Kamu yang beriman, janganlah masuk ke dalam rumah Nabi kecuali izin diberikan kepadamu untuk makan, tidak menunggu masakannya selesai." Qatada (alih-alih menggunakan kata Ghaira Nazirina) menggunakan kata Ghaira Mutahayyinina (yaitu tidak menunggu waktu makan). Tapi ketika kamu diundang, masuklah ..." sampai ayat ini. Ini lebih murni bagi hati Anda dan hati mereka.
Kitab Pernikahan - Sahih Muslim 1428h
Narasi ini dari Sahih Muslim menggambarkan pesta pernikahan Nabi Muhammad (ﷺ) dengan Zainab binti Jahsh (ra) dan wahyu Al-Quran berikutnya mengenai tata krama di rumah tangga Nabi.
Konteks Sejarah & Signifikansi
Pernikahan dengan Zainab (ra) ditetapkan secara ilahi, mematahkan adat pra-Islam karena dia sebelumnya menikah dengan budak yang dibebaskan Nabi, Zaid bin Haritsah. Persatuan ini menetapkan bahwa dalam Islam, tidak ada stigma dalam menikahi mantan istri anak angkat.
Hadiah Umm Sulaim berupa topi dalam wadah batu menunjukkan kesederhanaan dan ketulusan masyarakat Muslim awal, di mana hadiah diberikan dari apa yang dimiliki, terlepas dari nilai materi.
Pesta Pernikahan & Wahyu Ilahi
Instruksi Nabi untuk mengundang semua Muslim mencerminkan sifat inklusifnya dan semangat komunal Islam. Berkah ajaib makanan - di mana banyak orang makan dari persediaan terbatas - menunjukkan nikmat Allah atas Nabi.
Tamu yang terlalu lama tinggal mengakibatkan wahyu tata krama Al-Quran: Muslim tidak boleh memasuki rumah Nabi tanpa izin atau berlama-lama setelah makan. Panduan ini memurnikan hati para sahabat dari ketidaknyamanan dan Nabi dari harus meminta mereka pergi.
Komentar Ilmiah
Ulama klasik mencatat bahwa insiden ini menetapkan pedoman sosial penting: menghormati privasi, waktu kunjungan yang tepat, dan pertimbangan untuk tuan rumah. Wahyu datang secara bertahap untuk mendidik komunitas dengan lembut.
Ibn Kathir berkomentar bahwa ayat ini mengajarkan para sahabat tata krama yang halus sambil mempertahankan cinta mereka kepada Nabi. Panduan ini, meskipun khusus untuk rumah tangga Nabi, mengandung prinsip-prinsip tata krama universal yang berlaku untuk semua rumah Muslim.