Allah Yang Maha Mulia dan Yang Maha Mulia berfirman: Setiap perbuatan anak Adam adalah baginya kecuali berpuasa. Itu dilakukan demi Aku, dan Aku akan memberikan pahala untuk itu. Demi Allah di Tangan-Nya adalah kehidupan Muhammad, nafas pengamat puasa lebih manis bagi Allah daripada aroma musk.
Kitab Puasa - Sahih Muslim 1151 b
Allah, Yang Maha Agung dan Maha Tinggi, berfirman: Setiap perbuatan anak Adam adalah untuknya kecuali puasa. Itu dilakukan demi Aku, dan Aku akan memberikan pahala untuknya. Demi Allah yang di Tangan-Nya kehidupan Muhammad, napas orang yang berpuasa lebih harum bagi Allah daripada wangi kesturi.
Komentar tentang Status Ilahi Puasa
Hadis qudsi yang suci ini membedakan puasa dari semua ibadah lainnya melalui hubungan uniknya dengan Hakikat Ilahi. Sementara perbuatan lain mungkin dilakukan dengan berbagai tingkat pamer, puasa tetap tersembunyi antara hamba dan Tuhannya, menjadikannya bentuk pengabdian yang paling tulus.
Frasa "Itu dilakukan demi Aku" menunjukkan bahwa puasa murni untuk kesenangan Allah, tanpa manfaat duniawi atau pengakuan manusia. Eksklusivitas ini mengangkat puasa ke tingkat yang tak tertandingi oleh ibadah lain, karena tidak dapat dinodai oleh kemunafikan.
Pahala Ilahi dan Keharuman Napas Orang Berpuasa
Janji Allah "Aku akan memberikan pahala untuknya" menandakan balasan tanpa batas dari Yang Maha Pemurah, tanpa ukuran atau batasan. Ini berbeda dengan perbuatan lain yang pahalanya ditentukan dalam jumlah.
Perbandingan napas orang yang berpuasa dengan kesturi—meskipun secara fisik tidak menyenangkan—menunjukkan bagaimana Allah mengubah apa yang secara lahiriah menjijikkan menjadi sesuatu yang harum secara spiritual. Ini mengajarkan kita bahwa Allah menilai berdasarkan niat dan realitas spiritual, bukan penampilan fisik.
Implikasi Praktis bagi Orang Beriman
Hadis ini seharusnya menginspirasi Muslim untuk menjaga puasa mereka dari segala bentuk pamer dan mempertahankan kemurnian niat sepanjang periode puasa.
Orang beriman harus merenungkan kehormatan ilahi ini dan berusaha menjadikan puasa mereka sebagai sarana pemurnian spiritual dan hubungan intim dengan Sang Pencipta, menyadari bahwa tindakan ini dilindungi dari bisikan setan dan pujian manusia.