Allah Yang Maha Mulia berfirman: Setiap perbuatan anak Adam adalah untuknya, kecuali puasa. Itu (secara eksklusif) dimaksudkan untuk-Ku dan Aku (sendiri) akan menghadiahinya. Puasa adalah perisai. Ketika salah satu dari kamu berpuasa pada suatu hari, dia tidak boleh memanjakan diri dengan bahasa cabul, atau meninggikan suara; atau jika ada yang mencacinya atau mencoba bertengkar dengannya, dia harus berkata: Aku adalah orang yang berpuasa. Oleh-Nya, di Tangan-Nya nyawa Muhammad, nafas pengamat puasa lebih manis bagi Allah pada hari kiamat daripada aroma musk. Orang yang berpuasa memiliki dua (kesempatan) sukacita, satu ketika dia berbuka puasa dia senang dengan berbuka puasa dan satu ketika dia bertemu dengan Tuhannya dia senang dengan puasanya.
Hadiah Eksklusif dari Puasa
Semua ibadah memiliki pahala yang telah ditetapkan, tetapi puasa memiliki status yang unik. Allah menyatakannya secara eksklusif untuk Diri-Nya sendiri, menunjukkan hubungan yang khusus dan intim serta pahala yang tak terukur yang hanya Dia yang tahu dan berikan.
Puasa sebagai Perisai Spiritual
Puasa digambarkan sebagai "perisai" (junnah). Ia melindungi orang beriman dari dosa, ucapan jahat, dan godaan hawa nafsu (nafs). Ini adalah baju zirah spiritual yang menjaga iman dan ketakwaan seseorang.
Etika Orang yang Berpuasa
Puasa yang sejati bukan hanya menahan diri dari makanan dan minuman. Seseorang juga harus menahan lidah dari bahasa kotor, pertengkaran, dan obrolan sia-sia. Jika diprovokasi, orang beriman seharusnya hanya menyatakan, "Saya sedang berpuasa," mengingatkan diri sendiri dan orang lain tentang keadaan suci mereka.
Aroma Ilahi
Allah bersumpah dengan Dzat-Nya sendiri bahwa napas orang yang berpuasa lebih dicintai oleh-Nya daripada aroma kesturi. Ini menandakan kehormatan dan cinta yang luar biasa yang Allah miliki untuk ibadah ini, mengubah bahkan tanda fisik dari kesulitan menjadi sesuatu yang berharga.
Dua Kegembiraan
Orang yang berpuasa mengalami dua kegembiraan yang berbeda: kegembiraan segera dan diizinkan dari berbuka puasa (iftar), dan kegembiraan tertinggi dan abadi dari bertemu Tuhannya dan menerima pahala penuh untuk puasanya pada Hari Kiamat.
Hadis ini ditemukan dalam Sahih Muslim, Kitab Puasa, Nomor Hadis: 1151 d.