Tokoh ilmu hadits
Al-Bukhārī
محمد بن إسماعيل البخاري
194–256 H
Masa Kecil Yatim dan Munculnya Daya Ingat yang Luar Biasa
Muḥammad bin Ismāʿīl lahir pada tahun 194 H di Bukhara dalam keluarga yang mencintai ilmu agama. Ayahnya, Ismāʿīl bin Ibrāhīm, adalah seorang ulama hadits yang belajar dari Imam Mālik bin Anas dan Ḥammād bin Zaid. Namun ayahnya wafat ketika ia masih kecil, sehingga pengasuhannya sepenuhnya dijalankan oleh ibunya yang salehah.
Para sejarawan mencatat bahwa pada masa kanak-kanak, Muḥammad sempat kehilangan penglihatannya akibat sakit. Ibunya senantiasa memanjatkan doa pada malam hari hingga bermimpi didatangi Nabi Ibrahim 'alaihissalam yang mengabarkan bahwa Allah telah memulihkan penglihatan putranya berkat cucuran air mata dan doanya.
Pada usia sepuluh tahun, setelah menghafal Al-Qur'an, ia mulai mendalami majelis-majelis hadits di Bukhara. Ketajaman ingatannya tampak nyata sejak dini. Pada usia sebelas tahun, ia dengan santun mengoreksi kekeliruan sanad yang dibacakan oleh gurunya, Ad-Dakhili. Setelah memeriksa naskah aslinya, sang guru mengakui kebenaran sang murid dan meramalkan masa depan keilmuan yang gilang-gemilang baginya.
Perjalanan Panjang Menuntut Ilmu (Al-Rihlah)
Pada usia enam belas tahun, Al-Bukhari menunaikan ibadah haji ke Makkah bersama ibu dan kakak lelakinya, Ahmad. Ketika keluarganya hendak kembali ke Khurasan, ia meminta izin kepada ibunya untuk menetap di Hijaz demi menimba hadits dari para ulama terkemuka di Dua Tanah Suci.
Keputusan ini mengawali pengembaraan ilmiah selama lebih dari enam belas tahun di pusat-pusat keilmuan Islam klasik:
- Hijaz (Makkah dan Madinah): tinggal selama enam tahun, menulis draf kitab-kitabnya di malam hari di dekat makam Rasulullah ﷺ.
- Irak (Bashrah, Kufah, Baghdad, Wasith): mengunjungi Baghdad delapan kali dan belajar bersama Imam Ahmad bin Hanbal.
- Syam dan Mesir: Damaskus, Homs, Asqalan, dan Kairo.
- Khurasan dan Transoxiana: Merv, Balkh, Nishapur, dan Rayy.
Al-Bukhari meriwayatkan bahwa ia mencatat hadits dari lebih dari seribu guru dengan verifikasi ketat atas sanad dan biografinya.
Ujian Bersejarah di Baghdad: Seratus Hadits yang Dibalik
Ketika ketenaran Al-Bukhari tersebar hingga Baghdad, para ahli hadits di kota tersebut hendak menguji ketajaman hafalannya melalui ujian publik yang ketat (al-imtihan).
Sepuluh ulama masing-masing menyiapkan sepuluh hadits—total seratus hadits—yang sanad dan matannya sengaja dipertukarkan dan diputarbalikkan.
«Di hadapan majelis yang dihadiri banyak ulama, kesepuluh penguji membacakan hadits-hadits yang telah dibalik tersebut. Terhadap setiap hadits, Al-Bukhari dengan tenang menjawab: "Saya tidak mengetahuinya dengan susunan demikian."— Diriwayatkan oleh Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Hady as-Sari dan Al-Khatib al-Baghdadi dalam Tarikh Baghdad
Setelah seluruhnya selesai, Al-Bukhari menoleh kepada penguji pertama dan menguraikan satu demi satu: ia menyebutkan kembali riwayat keliru yang dibacakan, lalu langsung mengembalikan sanad dan matan yang asli dan sahih. Ia menuntaskan seratus hadits tersebut seluruhnya dari hafalan tanpa satu pun catatan atau kekeliruan!»
Menyaksikan ketelitian hafalan dan kritik sanad yang tiada tanding ini, para ulama Baghdad sepakat mengakui kepemimpinannya dalam ilmu hadits.
Penyusunan Kitab Shahih: Enam Belas Tahun Kesungguhan dan Ibadah
Gagasan menyusun kitab hadits yang murni berisi riwayat sahih muncul saat sang guru, Ishaq bin Rahawayh, mengutarakan harapannya agar ada ulama yang menghimpun kitab ringkas berisi hadits-hadits sahih saja. Niat ini semakin teguh setelah Al-Bukhari bermimpi mengibaskan lalat dari wajah Rasulullah ﷺ dengan kipas, yang ditakwilkan sebagai tugas menyaring kebohongan dari Sunnah Nabi.
Selama enam belas tahun, ia meneliti sekitar 600.000 riwayat untuk menyaring 7.563 hadits (beserta pengulangan) dalam mahakaryanya, Al-Jami' al-Musnad ash-Shahih al-Mukhtashar.
Kriteria Kesahihan Al-Bukhari
- Bukti Nyata Bertemunya Perawi (Tsubut al-Liqa'): Mensyaratkan bukti sejarah bertemunya perawi secara langsung dengan gurunya, tidak cukup sekadar hidup sezaman (mu'asharah).
- Keadilan dan Ketelitian Sempurna (Al-'Adalah wa adh-Dhabt at-Tamm).
- Terbebas dari Cacat Tersembunyi (Salamah min al-'Ilal).
- Nilai Spiritual: Ia tidak mencantumkan satu hadits pun dalam kitab Shahih melainkan terlebih dahulu mandi dan mendirikan salat istikharah dua rakaat.
Kemuliaan Ilmu dan Wafat di Khartang
Sekembalinya ke tanah kelahiran di Bukhara, Gubernur Khalid bin Ahmad adz-Dzuhli memintanya datang ke istana untuk mengajar putra-putranya secara privat. Imam menolak dengan tegas demi menjaga marwah ilmu: "Saya tidak akan merendahkan ilmu dengan membawanya ke pintu penguasa. Jika gubernur menginginkannya, silakan hadir ke masjid atau ke rumah saya."
Penolakan ini berujung pada pengusirannya dari kota. Dalam perjalanan menuju Samarkand, ia singgah di desa Khartang bersama kerabatnya dan jatuh sakit di sana.
Ia wafat dengan tenang pada malam Idul Fitri tahun 256 H (September 870 M) dalam usia 62 tahun. Jenazahnya dimakamkan dengan iringan doa dari ribuan kaum muslimin.
Karya di perpustakaan
Karya yang tersedia di Hadith.day
Sahih al-Bukhari (صحيح البخاري)
Tersedia di situsDikompilasi oleh Imam al-Bukhari, koleksi hadis ini dianggap sebagai salah satu sumber pengajaran Islam yang paling autentik.
Al-Adab Al-Mufrad (الأدب المفرد)
Tersedia di situsDikompilasi oleh Imam al-Bukhari, koleksi ini berfokus pada etiket, tata krama, dan perilaku sosial, memberikan panduan untuk kehidupan pribadi dan komunal.
Karya-karya utama lainnya
التاريخ الكبير (Al-Tarikh al-Kabir — Sejarah Besar)
Kritik Biografi Perawi (Jarh wa Ta'dil)Ensiklopedia memuat lebih dari 40.000 biografi perawi hadits dengan penilaian kritis terhadap kredibilitas mereka.
التاريخ الأوسط والتاريخ الصغير (Al-Tarikh al-Awsat & ash-Shaghir)
Kronologi SejarahRingkasan kronologis sejarah ulama dan tingkatan generasi (thabaqat).
خلق أفعال العباد (Khalq Af'al al-'Ibad)
Akidah dan TeologiKarya akidah yang membantah pandangan Jahmiyyah dan Mu'tazilah serta menegaskan doktrin Ahlus Sunnah.
الضعفاء الصغير (Adh-Dhu'afa ash-Shaghir)
Ilmu HaditsDaftar perawi hadits yang dinilai lemah, ditulis dengan kehati-hatian dan adab yang sangat tinggi.
جزء رفع اليدين في الصلاة (Juz' Raf' al-Yadayn)
Fikih dan SunnahMonografi tentang anjuran mengangkat tangan saat rukuk dan bangkit dari rukuk dalam salat.
جزء القراءة خلف الإمام (Juz' al-Qira'ah Khalf al-Imam)
Fikih dan SunnahKajian tentang pembacaan Surah Al-Fatihah oleh makmum di belakang imam.
كتاب الكنى (Kitab al-Kuna)
Ilmu HaditsKamus julukan atau kunyah para perawi untuk mencegah kekeliruan identitas.
Sumber biografi klasik
Riwayat hidup dan kedudukan ilmiah Al-Bukhārī terdokumentasi dalam ensiklopedia biografi klasik tradisi Islam:
- Adz-Dzahabi (w. 748 H), Siyar A'lam an-Nubala', Mu'assasah ar-Risalah, Beirut, jilid 12, biografi no. 148, hlm. 391–471.
- Ibnu Hajar al-Asqalani (w. 852 H), Hady as-Sari : Muqaddimah Fath al-Bari, Dar al-Ma'rifah.
- Ibnu Hajar al-Asqalani, Tahdzib at-Tahdzib, Da'irah al-Ma'arif an-Nizhamiyyah, India, jilid 9, biografi no. 77, hlm. 47–55.
- Al-Khatib al-Baghdadi (w. 463 H), Tarikh Baghdad, Dar al-Gharb al-Islami, jilid 2, biografi no. 394, hlm. 6–36.
- Ibnu Katsir (w. 774 H), Al-Bidayah wa an-Nihayah, jilid 11, peristiwa tahun 256 H.