Seorang laki-laki dari kalangan kami yang disebut Jabir atau Juwaybir berkata: “Aku meminta suatu keperluan kepada Umar pada masa kekhalifahannya. Aku tiba di Madinah pada malam hari, lalu aku mendatanginya pada pagi harinya. Sungguh aku telah diberi kecerdasan dan lisan yang fasih —atau ia berkata: kemampuan berbicara—. Lalu aku berbicara tentang dunia dan meremehkannya, lalu aku meninggalkannya sebagai sesuatu yang tidak bernilai sama sekali. Sementara di sampingnya ada seorang laki-laki yang putih rambutnya dan putih pakaiannya.”
“Ketika aku selesai, ia berkata: ‘Seluruh ucapanmu itu mendekati kebenaran, kecuali celaanmu terhadap dunia. Tahukah engkau apa itu dunia? Sesungguhnya di dalam dunia terdapat bekal kita —atau ia berkata: perbekalan kita— menuju akhirat, dan di dalamnya terdapat amal-amal kita yang dengannya kita akan dibalas di akhirat.’”
“Ia berkata: ‘Lalu seorang laki-laki yang lebih mengetahui tentang dunia daripadaku berbicara tentang dunia.’ Maka aku berkata: ‘Wahai Amirul Mukminin, siapakah laki-laki yang di sampingmu ini?’ Ia berkata: ‘Pemuka kaum muslimin, Ubayy bin Ka'b.’”