Sifat Iblis (Setan) dan tentaranya Sahih al-Bukhari 3275

Teks hadis bahasa Arab
وَقَالَ عُثْمَانُ بْنُ الْهَيْثَمِ حَدَّثَنَا عَوْفٌ، عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ سِيرِينَ، عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ ـ رضى الله عنه ـ قَالَ وَكَّلَنِي رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم بِحِفْظِ زَكَاةِ رَمَضَانَ، فَأَتَانِي آتٍ، فَجَعَلَ يَحْثُو مِنَ الطَّعَامِ، فَأَخَذْتُهُ فَقُلْتُ لأَرْفَعَنَّكَ إِلَى رَسُولِ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم‏.‏ فَذَكَرَ الْحَدِيثَ فَقَالَإِذَا أَوَيْتَ إِلَى فِرَاشِكَ فَاقْرَأْ آيَةَ الْكُرْسِيِّ لَنْ يَزَالَ عَلَيْكَ مِنَ اللَّهِ حَافِظٌ، وَلاَ يَقْرَبُكَ شَيْطَانٌ حَتَّى تُصْبِحَ‏.‏ فَقَالَ النَّبِيُّ صلى الله عليه وسلم ‏"‏ صَدَقَكَ وَهْوَ كَذُوبٌ، ذَاكَ شَيْطَانٌ ‏"
Terjemahan
Diriwayatkan oleh 'Aisyah

Nabi (shallallahu 'alaihi wa sallam) pernah disihir. Dan Al-Laits berkata: Hisyam menulis kepadaku bahwa ia mendengarnya dan menghafalnya dari ayahnya, dari 'Aisyah: Nabi (shallallahu 'alaihi wa sallam) disihir hingga ia membayangkan bahwa ia telah melakukan sesuatu padahal ia belum melakukannya. Pada suatu hari ia berdoa, kemudian berkata: "Tahukah kamu bahwa Allah telah menunjukkan kepadaku cara penyembuhan? Dua orang laki-laki datang kepadaku; salah seorang duduk di dekat kepalaku dan yang lain di dekat kakiku. Salah seorang dari mereka bertanya: 'Apa penyakit orang ini?' Yang lain menjawab: 'Ia terkena sihir.' Ia bertanya: 'Siapa yang menyihirnya?' Ia menjawab: 'Labid bin al-A'sham.' Ia bertanya: 'Dengan apa?' Ia menjawab: 'Dengan sisir dan rambut yang menempel padanya, serta mayang kurma jantan.' Ia bertanya: 'Di mana ia?' Ia menjawab: 'Di sumur Dharwan.'" Maka Nabi (shallallahu 'alaihi wa sallam) pergi ke sumur itu, kemudian kembali dan berkata kepada 'Aisyah: "Pohon kurmanya seakan-akan kepala-kepala setan." Aku berkata: "Apakah engkau mengeluarkannya?" Ia menjawab: "Tidak. Adapun aku, Allah telah menyembuhkanku, dan aku khawatir hal itu akan menimbulkan kejahatan di tengah manusia." Kemudian sumur itu ditimbun.

Komentar

Awal Penciptaan - Sahih al-Bukhari 3275

Riwayat ini dari Abu Huraira, yang tercatat dalam Sahih al-Bukhari, mengandung hikmah mendalam mengenai perlindungan spiritual dan sifat penipuan Setan.

Insiden Penjagaan Zakat

Abu Huraira dipercayakan oleh Nabi Muhammad (ﷺ) untuk menjaga Zakat al-Fitr, sebuah amanah suci. Ketika seorang pencuri mencoba mencuri dari dana amal ini, Abu Huraira menunjukkan tanggung jawabnya dengan menangkapnya.

Identitas pencuri sebagai Setan dalam wujud manusia mengungkapkan bagaimana kejahatan mendekati orang beriman melalui cara-cara halus, bahkan berusaha merusak kewajiban agama.

Kekuatan Ayat al-Kursi

Setan, dengan kelicikannya, menasihati untuk membaca Ayat al-Kursi (Ayat Kursi, 2:255) sebelum tidur. Ayat ini mengandung deskripsi terbesar tentang keagungan dan kedaulatan Allah, berfungsi sebagai perlindungan spiritual.

Konfirmasi Nabi bahwa "dia mengatakan yang sebenarnya kepadamu, meskipun dia adalah pembohong" menunjukkan bahwa kebenaran dapat datang dari sumber yang tidak terduga, tetapi kita harus waspada terhadap niat si pembawa pesan.

Komentar Ilmiah

Ulama klasik mencatat bahwa Setan terkadang berbicara benar untuk membuat kebohongannya lebih dapat diterima. Perlindungan yang ditawarkan oleh Ayat al-Kursi adalah asli, karena menegaskan kendali mutlak Allah atas penciptaan.

Ibn Hajar al-Asqalani berkomentar bahwa hadis ini menetapkan keutamaan membaca Ayat al-Kursi untuk perlindungan, sementara juga mengajarkan kita untuk bijak tentang sumber-sumber nasihat agama.

Insiden ini menunjukkan bahwa bahkan saat melakukan kewajiban saleh seperti menjaga Zakat, seseorang harus tetap waspada secara spiritual terhadap bisikan dan tipu daya Setan.