حَدَّثَنَا إِبْرَاهِيمُ بْنُ مُوسَى، أَخْبَرَنَا عِيسَى، عَنْ هِشَامٍ، عَنْ أَبِيهِ، عَنْ عَائِشَةَ ـ رضى الله عنها ـ قَالَتْ سُحِرَ النَّبِيُّ صلى الله عليه وسلم‏.‏ وَقَالَ اللَّيْثُ كَتَبَ إِلَىَّ هِشَامٌ أَنَّهُ سَمِعَهُ وَوَعَاهُ عَنْ أَبِيهِ عَنْ عَائِشَةَ قَالَتْ سُحِرَ النَّبِيُّ صلى الله عليه وسلم حَتَّى كَانَ يُخَيَّلُ إِلَيْهِ أَنَّهُ يَفْعَلُ الشَّىْءَ وَمَا يَفْعَلُهُ، حَتَّى كَانَ ذَاتَ يَوْمٍ دَعَا وَدَعَا، ثُمَّ قَالَ ‏"‏ أَشَعَرْتِ أَنَّ اللَّهَ أَفْتَانِي فِيمَا فِيهِ شِفَائِي أَتَانِي رَجُلاَنِ، فَقَعَدَ أَحَدُهُمَا عِنْدَ رَأْسِي وَالآخَرُ عِنْدَ رِجْلَىَّ، فَقَالَ أَحَدُهُمَا لِلآخَرِ مَا وَجَعُ الرَّجُلِ قَالَ مَطْبُوبٌ‏.‏ قَالَ وَمَنْ طَبَّهُ قَالَ لَبِيدُ بْنُ الأَعْصَمِ‏.‏ قَالَ فِي مَاذَا قَالَ فِي مُشُطٍ وَمُشَاقَةٍ وَجُفِّ طَلْعَةٍ ذَكَرٍ‏.‏ قَالَ فَأَيْنَ هُوَ قَالَ فِي بِئْرِ ذَرْوَانَ ‏"‏‏.‏ فَخَرَجَ إِلَيْهَا النَّبِيُّ صلى الله عليه وسلم ثُمَّ رَجَعَ فَقَالَ لِعَائِشَةَ حِينَ رَجَعَ ‏"‏ نَخْلُهَا كَأَنَّهَا رُءُوسُ الشَّيَاطِينِ ‏"‏‏.‏ فَقُلْتُ اسْتَخْرَجْتَهُ فَقَالَ ‏"‏ لاَ أَمَّا أَنَا فَقَدْ شَفَانِي اللَّهُ، وَخَشِيتُ أَنْ يُثِيرَ ذَلِكَ عَلَى النَّاسِ شَرًّا، ثُمَّ دُفِنَتِ الْبِئْرُ ‏"‏‏.‏
Terjemahan
Narasi Sulaiman bin Surd

Sementara aku duduk bersama Nabi, dua pria saling melecehkan dan wajah salah satu dari mereka menjadi merah karena marah, dan pembuluh darahnya membengkak (yaitu dia menjadi marah). Rasulullah SAW bersabda, “Aku tahu suatu kata, yang perkataannya akan membuatnya rileks, jika dia mengatakannya. Jika dia berkata: “Aku berlindung kepada Allah dari syaitan, maka kemarahan itu akan hilang. Beberapa orang berkata kepadanya, “Rasulullah berkata, 'Berlindunglah kepada Allah dari setan. ' Orang yang marah itu berkata, “Apakah aku marah?”

Comment

Awal Penciptaan - Sahih al-Bukhari 3282

Narasi ini dari koleksi Sahih al-Bukhari memberikan wawasan mendalam tentang pendekatan Islam dalam mengelola kemarahan dan pengaturan diri spiritual.

Sifat Kemarahan dan Penyembuhan Spiritualnya

Nabi Muhammad (semoga damai besertanya) mengidentifikasi kemarahan sebagai keadaan yang dipengaruhi oleh bisikan setan. Ketika seseorang menjadi marah, transformasi fisik mereka - wajah memerah dan pembuluh darah membengkak - menunjukkan gangguan pada keadaan alami mereka.

Obat yang ditetapkan, "A'udhu billahi min ash-shaytan ir-rajim" (Saya berlindung kepada Allah dari setan), berfungsi sebagai perlindungan spiritual dan intervensi psikologis. Seruan ini mengakui pengaruh eksternal dari kejahatan dan meminta bantuan ilahi untuk mengembalikan keseimbangan.

Komentar Ulama tentang Tanggapan Pria yang Marah

Tangkisan pria "Apakah saya gila?" menunjukkan kebutaan yang dihasilkan oleh kemarahan. Dalam keadaan gelisahnya, dia gagal mengenali kebijaksanaan di balik nasihat Nabi, malah menafsirkannya sebagai penghinaan terhadap kewarasannya.

Ulama klasik mencatat bahwa reaksi ini menggambarkan bagaimana kemarahan mengaburkan penilaian dan mencegah penerimaan rasional terhadap nasihat yang bermanfaat. Kegilaan sebenarnya bukan terletak pada mencari perlindungan kepada Allah, tetapi dalam membiarkan kemarahan mendominasi kemampuan seseorang.

Penerapan Praktis dalam Kehidupan Sehari-hari

Ajaran ini menetapkan metodologi praktis bagi Muslim yang menghadapi kemarahan: segera kenali pengaruh setan, secara verbal minta perlindungan Allah, dan secara sadar melepaskan diri dari gejolak emosional.

Efektivitas praktik ini terletak pada tindakan gandanya - secara bersamaan mengakui dimensi spiritual dari keadaan emosional sambil memberikan intervensi perilaku konkret untuk mendapatkan kembali kendali diri.