Sebutan (tentang) Malaikat Sahih al-Bukhari 3218
Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: Ketika aku berada di sisi Baitullah antara tidur dan jaga, dihadapkan kepadaku bejana emas yang penuh dengan hikmah dan iman. Dadaku dibelah dari ulu hati hingga perut bagian bawah, lalu perutku dicuci dengan air zamzam, kemudian diisi dengan hikmah dan iman. Lalu didatangkan kepadaku seekor hewan putih yang lebih kecil dari bagal tetapi lebih besar dari keledai, yaitu Buraq. Aku berangkat bersama Jibril hingga kami sampai di langit dunia. Ditanyakan: “Siapa ini?” Jibril menjawab: “Jibril.” Ditanyakan: “Siapa yang bersamamu?” Dia menjawab: “Muhammad.” Ditanyakan: “Apakah dia telah diutus (kepadanya)?” Dia menjawab: “Ya.” Maka dikatakan: “Selamat datang baginya, sebaik-baik kedatangan.”
Aku menemui Adam dan mengucapkan salam kepadanya. Dia berkata: “Selamat datang kepadamu, wahai anak dan Nabi.” Lalu kami sampai ke langit kedua, ditanyakan (hal yang sama), dan dijawab: “Selamat datang baginya, sebaik-baik kedatangan.” Aku menemui Isa dan Yahya, keduanya berkata: “Selamat datang kepadamu, wahai saudara dan Nabi.” Kemudian aku sampai ke langit ketiga dan menemui Yusuf, dia berkata: “Selamat datang kepadamu, wahai saudara dan Nabi.” Langit keempat, aku menemui Idris, dia berkata: “Selamat datang kepadamu, wahai saudara dan Nabi.” Langit kelima, aku menemui Harun, dia berkata: “Selamat datang kepadamu, wahai saudara dan Nabi.” Langit keenam, aku menemui Musa, dia berkata: “Selamat datang kepadamu, wahai saudara dan Nabi.” Ketika aku pergi, dia menangis. Lalu ditanyakan: “Apa yang menyebabkanmu menangis?” Dia berkata: “Ya Rabbi, pemuda ini yang diutus setelahku akan memasuki surga dari umatnya lebih banyak daripada yang masuk dari umatku.”
Lalu aku sampai ke langit ketujuh dan menemui Ibrahim, dia berkata: “Selamat datang kepadamu, wahai anak dan Nabi.” Kemudian diangkat untukku Baitul Ma'mur. Aku bertanya kepada Jibril, dia berkata: “Ini adalah Baitul Ma'mur yang setiap hari dimasuki oleh tujuh puluh ribu malaikat untuk salat di dalamnya, dan mereka tidak akan kembali lagi ke tempat itu.” Kemudian diangkat untukku Sidratul Muntaha. Buahnya seperti kendi tanah dan daunnya seperti telinga gajah. Di pangkalnya terdapat empat sungai: dua sungai yang tersembunyi (di dalam surga) dan dua sungai yang tampak (Nil dan Eufrat).
Kemudian diwajibkan atasku lima puluh salat. Aku kembali kepada Musa, dia berkata: “Apa yang telah engkau lakukan?” Aku menjawab: “Lima puluh salat telah diwajibkan atasku.” Dia berkata: “Aku lebih tahu tentang manusia daripadamu. Aku telah menghadapi Bani Israil dengan perjuangan yang berat. Sesungguhnya umatmu tidak akan mampu menanggung (lima puluh salat itu). Kembalilah kepada Rabbmu dan mintalah keringanan.” Maka aku kembali dan meminta kepada-Nya, lalu Dia menjadikannya empat puluh. Kemudian seperti itu lagi, lalu Dia menjadikannya tiga puluh, kemudian seperti itu lagi, lalu Dia menjadikannya dua puluh, kemudian seperti itu lagi, lalu Dia menjadikannya sepuluh. Lalu aku menemui Musa dan dia berkata seperti itu lagi. Aku menjawab: “Aku telah pasrah dengan kebaikan.” Maka diserukan: “Sungguh Aku telah menetapkan kewajiban-Ku dan meringankan (beban) hamba-hamba-Ku, dan Aku memberi balasan satu kebaikan dengan sepuluh kali lipat.”
Dan Hammam meriwayatkan dari Qatadah, dari Al-Hasan, dari Abu Hurairah radhiallahu 'anhu, dari Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam tentang Baitul Ma'mur.