Rasulullah SAW (ﷺ) berkata, “Jibril membacakan Al-Qur'an kepadaku dengan satu cara (yaitu dialek) dan aku terus memintanya untuk membacanya dengan cara yang berbeda sampai dia membacanya dalam tujuh cara yang berbeda.”
Awal Penciptaan - Sahih al-Bukhari 3219
Rasulullah (ﷺ) bersabda, "Jibril membacakan Al-Qur'an kepadaku dengan satu cara (yaitu dialek) dan aku terus memintanya untuk membacakannya dengan cara yang berbeda hingga dia membacakannya dalam tujuh cara yang berbeda."
Komentar tentang Tujuh Ahruf
Hadis mulia ini menetapkan hikmah ilahi di balik wahyu Al-Qur'an dalam tujuh mode (ahruf). Tujuh cara ini merujuk pada variasi dalam pengucapan, kata-kata, dan konstruksi tata bahasa sambil mempertahankan makna esensial yang sama. Fasilitasi ini adalah rahmat dari Allah kepada Ummah, mengakomodasi dialek Arab yang berbeda dan memudahkan penghafalan bagi berbagai suku.
Ketetapan Nabi dalam meminta bacaan yang berbeda menunjukkan kepeduliannya terhadap kemudahan komunitasnya dalam mempelajari dan melestarikan Al-Qur'an. Keberagaman ini tidak menunjukkan kontradiksi tetapi justru menunjukkan kekayaan dan fleksibilitas bahasa Arab dalam menyampaikan wahyu ilahi.
Perspektif Ilmiah
Imam Ibn al-Jazari menyatakan: "Hikmah dalam tujuh ahruf adalah untuk meringankan beban Ummah dan mengakomodasi dialek-dialek Arab yang berbeda pada saat wahyu."
Imam al-Suyuti menjelaskan bahwa tujuh mode ini mencakup variasi dalam: 1) kata benda (tunggal/jamak), 2) kala kata kerja, 3) kasus tata bahasa, 4) perbedaan pengucapan, 5) penggantian kata, 6) urutan kata, dan 7) penambahan/penghilangan sambil mempertahankan makna esensial yang sama.
Implikasi Praktis
Akomodasi ilahi ini memastikan bahwa Al-Qur'an tetap dapat diakses oleh semua Muslim terlepas dari latar belakang linguistik mereka. Pelestarian variasi-variasi ini melalui rantai transmisi yang otentik menunjukkan perawatan teliti yang dilakukan oleh komunitas Muslim awal dalam melestarikan setiap aspek wahyu.
Hari ini, sementara sebagian besar variasi ini telah dilestarikan dalam bacaan kanonik (qira'at), esensi fasilitasi ini tetap ada - memungkinkan Muslim di seluruh dunia untuk membaca Al-Qur'an dengan cara yang nyaman bagi mereka sambil mempertahankan kemurnian teks.