Qutaibah bin Sa'id menceritakan kepada kami, 'Abdul 'Aziz dari Abu Hazim dari Sahl bin Sa'd — radhiyallahu 'anhu — bahwa Rasulullah ﷺ bersabda, "Sungguh, aku akan memberikan bendera ini besok kepada seorang laki-laki yang dengannya Allah akan memberikan kemenangan." Maka orang-orang bermalam-malaman untuk memperbincangkan siapa di antara mereka yang akan diberi bendera tersebut. Ketika pagi tiba, mereka pergi kepada Rasulullah ﷺ, masing-masing berharap akan diberi bendera itu. Beliau bertanya, "Di manakah 'Ali bin Abi Thalib?" Mereka menjawab, "Dia sedang mengeluh sakit pada kedua matanya, wahai Rasulullah." Beliau bersabda, "Utuslah seseorang kepadanya dan bawalah dia kemari." Ketika dia datang, beliau meludahi kedua matanya dan mendoakannya, maka sembuhlah ia seakan-akan tidak ada rasa sakit. Lalu beliau memberikan bendera tersebut kepadanya. 'Ali berkata, "Wahai Rasulullah, apakah aku akan memerangi mereka hingga mereka menjadi seperti kami?" Beliau bersabda, "Berangkatlah ke perkemahan mereka, kemudian ajaklah mereka kepada Islam, dan beritahukanlah kepada mereka tentang hak-hak Allah yang wajib atas mereka di dalamnya. Demi Allah, jika Allah memberi petunjuk melalui dirimu kepada seorang saja, itu lebih baik bagimu daripada memiliki unta-unta merah."
Keunggulan 'Ali ibn Abi Talib
Riwayat ini dari Sahih al-Bukhari 3702 menunjukkan status khusus 'Ali ibn Abi Talib (semoga Allah meridainya) di mata Allah dan Rasul-Nya. Ketidakhadirannya awalnya karena ophthalmia parah (radang mata) adalah alasan yang sah dalam hukum Islam, namun kerinduan spiritualnya untuk bersama Nabi mengatasi penyakit fisiknya.
Pemilihan Ilahi untuk Kepemimpinan
Pernyataan Nabi menunjukkan bahwa ini bukanlah pengangkatan biasa melainkan pemilihan ilahi. Frasa "yang dicintai Allah dan Rasul-Nya" atau "yang mencintai Allah dan Rasul-Nya" menetapkan stasiun spiritual unik 'Ali. Cinta ini timbal balik antara Sang Pencipta, Rasul-Nya, dan hamba yang setia.
Pemberian kemenangan oleh Allah di bawah kepemimpinan 'Ali mengonfirmasi dukungan ilahi atas pengangkatan ini. Penaklukan Khaibar—benteng Yahudi yang tangguh—menandai momen penting dalam sejarah Islam, dan peran 'Ali sebagai pembawa panji menandakan keahlian bela dirinya dan dukungan ilahi.
Kedatangan Tak Terduga sebagai Ketetapan Ilahi
Kemunculan tak terduga 'Ali pada momen krusial menunjukkan bagaimana Allah memfasilitasi rencana ilahi-Nya. Pengakuan para sahabat terhadapnya ("Ini adalah 'Ali") menunjukkan kebajikan dan kemampuannya yang dikenal. Peralihan kepemimpinan yang mulus kepadanya, meskipun hadir banyak sahabat senior, menyoroti prinsip bahwa stasiun spiritual diberikan oleh kebijaksanaan ilahi, bukan hanya oleh usia atau status yang tampak.