Sahih al-Bukhari

Bab : Siapa pun yang menganggap bahwa Tashah-hud pertama tidak wajib

Diriwayatkan 'Abdullah bin Buhaina

Telah menceritakan kepada kami Abu Al-Yaman, dia berkata: Telah mengabarkan kepada kami Syu'aib, dari Az-Zuhri, dia berkata: Telah menceritakan kepadaku Abdurrahman bin Hurmuz, mantan budak (maula) Bani Abdul-Muththalib —dan sekali waktu dia berkata: maula Rabi'ah bin Al-Harits— bahwa Abdullah bin Buhainah —dia berasal dari Azd Syanu'ah dan sekutu Bani Abdu Manaf, serta termasuk sahabat Nabi ﷺ— bahwa Nabi ﷺ shalat Zhuhur bersama mereka. Beliau berdiri setelah dua rakaat pertama tanpa duduk. Maka orang-orang pun ikut berdiri. Ketika selesai shalat dan orang-orang menunggu salam beliau, beliau bertakbir sambil duduk, lalu sujud dua kali sebelum salam, kemudian mengucapkan salam.

Bab : (Mengatakan tentang) Tashah-hud dalam rakaa terakhir

Diriwayatkan Shaqiq bin Salama

Abdullah berkata, “Ketika kami salat di belakang Nabi (shallallahu ‘alaihi wa sallam), kami biasa mengucapkan: ‘Semoga kesejahteraan atas Jibril dan Mikail, semoga kesejahteraan atas si fulan dan si fulan.’ Maka Rasulullah (shallallahu ‘alaihi wa sallam) menoleh kepada kami dan bersabda, ‘Sesungguhnya Allah adalah As-Salam. Jika salah seorang dari kalian salat, hendaknya mengucapkan: at-Tahiyyatu lillahi was-salawatu wat-tayyibat, as-salamu ‘alaika ayyuhan-nabiyyu wa rahmatullahi wa barakatuh, as-salamu ‘alaina wa ‘ala ‘ibadillahis-salihin (Segala penghormatan, doa, dan kebaikan adalah milik Allah; semoga kesejahteraan atasmu, wahai Nabi, serta rahmat Allah dan berkah-Nya; semoga kesejahteraan atas kami dan atas hamba-hamba Allah yang saleh). Jika kalian mengucapkannya, maka itu akan sampai kepada setiap hamba Allah yang saleh di langit dan di bumi. (Kemudian ucapkanlah:) Aku bersaksi bahwa tidak ada ilah yang berhak disembah selain Allah, dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan Rasul-Nya.’”

Bab : (Dalam doa yang tenang) jika Imam membacakan Ayat atau lebih terdengar

Diriwayatkan 'Abdullah bin Abi Qatada

Ayahku berkata, “Nabi (shallallahu ‘alaihi wa sallam) biasa membaca Al-Fatihah dan satu surat (lainnya) pada dua rakaat pertama salat Zuhur dan Asar. Kadang-kadang beliau memperdengarkan ayat kepada kami, dan beliau memanjangkan rakaat pertama.”

Bab : Perkataan Amin dengan lantang oleh Imam

Diriwayatkan Abu Huraira

Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, "Apabila imam mengucapkan 'Amin', maka ucapkanlah 'Amin', karena barangsiapa yang ucapan 'Amin'-nya bersamaan dengan ucapan 'Amin' para malaikat, maka dosa-dosanya yang telah lalu akan diampuni." Ibnu Syihab berkata, "Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam biasa mengucapkan 'Amin'."

Bab : Itmam At-Takbir (yaitu, mengakhiri angka Takbir atau mengucapkan Takbir dengan sempurna) saat membungkuk. [Lihat Fath al-Bari]

Diriwayatkan 'Imran bin Husain

Telah menceritakan kepada kami Ishaq al-Wasiti, dia berkata: telah menceritakan kepada kami Khalid, dari al-Jurayri, dari Abu al-'Ala', dari Mutarrif, dari 'Imran bin Husain, dia berkata: Aku shalat bersama Ali —radhiyallahu 'anhu— di Bashrah, lalu dia berkata: Orang ini mengingatkan kami akan shalat yang biasa kami shalat bersama Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam. Dan dia menyebutkan bahwa beliau bertakbir setiap kali bangkit dan setiap kali sujud.

Bab : Itmam At-Takbir (yaitu, mengakhiri jumlah Takbir, atau mengucapkan Takbir dengan sempurna) pada saat bersujud. [Lihat Fath al-Bari]

Diriwayatkan Mutarrif bin 'Abdullah

Abu an-Nu'man menceritakan kepada kami: Hammad menceritakan kepada kami, dari Ghailan bin Jarir, dari Mutarrif bin Abdullah, ia berkata: Aku salat di belakang Ali bin Abi Thalib radhiyallahu 'anhu, aku dan Imran bin Husain. Apabila ia sujud, ia bertakbir; apabila ia mengangkat kepalanya, ia bertakbir; dan apabila ia bangkit dari dua rakaat, ia bertakbir. Ketika selesai salat, Imran bin Husain memegang tanganku lalu berkata: 'Orang ini telah mengingatkanku tentang salatnya Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam.' Atau ia berkata: 'Dia telah salat bersama kami seperti salatnya Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam.'

Bab : Mengucapkan Takbir pada saat bangkit dari sujud

Dan meriwayatkan Abu Huraira

Apabila Rasulullah ﷺ berdiri untuk shalat, beliau bertakbir ketika berdiri, kemudian bertakbir ketika ruku'. Kemudian ketika mengangkat punggungnya dari ruku', beliau mengucapkan: 'Sami'a llahu liman hamidah' (سَمِعَ اللَّهُ لِمَنْ حَمِدَهُ), lalu sambil berdiri beliau mengucapkan: 'Rabbana laka-l-hamd' (رَبَّنَا لَكَ الْحَمْدُ). (Abdullah bin Salih meriwayatkan dari al-Layth: 'Wa laka-l-hamd' (وَلَكَ الْحَمْدُ).) Kemudian beliau bertakbir ketika sujud, kemudian bertakbir ketika mengangkat kepalanya, kemudian bertakbir ketika sujud, kemudian bertakbir ketika mengangkat kepalanya. Beliau melakukan hal itu di seluruh shalat hingga menyelesaikannya. Dan beliau bertakbir ketika bangkit dari dua rakaat setelah duduk.

Bab : Perintah Nabi (s.a.a.w) kepada seseorang yang tidak melakukan sujud dengan sempurna agar dia mengulangi Salat (shalat)

Diriwayatkan Abu Huraira

Ketika Nabi (shallallahu ‘alaihi wa sallam) masuk masjid, seorang laki-laki masuk, lalu shalat, kemudian datang dan memberi salam kepada Nabi. Nabi menjawab salamnya dan berkata, “Kembalilah dan shalatlah, karena sesungguhnya engkau belum shalat.” Laki-laki itu shalat lagi, kemudian datang dan memberi salam kepada Nabi. Beliau berkata kepadanya tiga kali, “Kembalilah dan shalatlah, karena sesungguhnya engkau belum shalat.” Laki-laki itu berkata, “Demi Zat yang mengutusmu dengan kebenaran, aku tidak bisa melakukan yang lebih baik dari ini. Maka ajari aku.” Beliau bersabda, “Apabila engkau berdiri untuk shalat, bertakbirlah, kemudian bacalah apa yang mudah bagimu dari Al-Qur’an, lalu rukuklah sampai engkau thuma’ninah dalam rukuk, kemudian bangkitlah sampai engkau berdiri tegak, lalu sujudlah sampai engkau thuma’ninah dalam sujud, kemudian bangkitlah sampai engkau thuma’ninah dalam duduk, lalu sujudlah sampai engkau thuma’ninah dalam sujud, dan lakukanlah itu dalam seluruh shalatmu.”

Bab : Doa dalam membungkuk.

Diriwayatkan 'Aisha

Telah menceritakan kepada kami Hafs bin Umar, dia berkata: Telah menceritakan kepada kami Syu'bah, dari Manshur, dari Abu Ad-Dhuha, dari Masruq, dari Aisyah radhiyallahu 'anha, dia berkata: Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam biasa mengucapkan dalam rukuk dan sujudnya:

"سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ رَبَّنَا وَبِحَمْدِكَ، اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِي" (Subhanaka l-lahumma Rabbana wa bihamdika; Allahumma ghfir li) – "Maha Suci Engkau, ya Allah, Tuhan kami, dan dengan pujian-Mu; ya Allah, ampunilah aku."

Bab : Bab

Riwayat Anas

Telah menceritakan kepada kami Abdullah bin Abi al-Aswad, dia berkata: Telah menceritakan kepada kami Isma'il, dari Khalid al-Hadzdza', dari Abu Qilabah, dari Anas radhiyallahu 'anhu, dia berkata: Qunut biasa dibaca pada salat Maghrib dan Subuh.

Bab : Orang harus mengucapkan Takbir saat bersujud.

Diriwayatkan Anas bin Malik

Ali bin Abdullah menceritakan kepada kami, ia berkata: Sufyan menceritakan kepada kami, lebih dari satu kali, dari az-Zuhri, ia berkata: Aku mendengar Anas bin Malik berkata: Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam jatuh dari kuda – dan kadang Sufyan berkata: dari kuda – maka sisi kanan beliau terluka. Kami masuk menemui beliau untuk menjenguknya. Ketika waktu salat tiba, beliau salat mengimami kami dengan duduk, dan kami pun salat sambil duduk – dan Sufyan berkata sekali: Kami salat sambil duduk. Ketika beliau selesai salat, beliau bersabda: “Sesungguhnya imam itu dijadikan untuk diikuti. Apabila dia bertakbir, bertakbirlah kalian; apabila dia rukuk, rukuklah kalian; apabila dia bangkit dari rukuk, bangkitlah kalian; dan apabila dia mengucapkan: Sami'a Llahu liman hamidah, maka ucapkanlah: Rabbana wa laka l-hamd; dan apabila dia sujud, sujudlah kalian.” Sufyan berkata: Demikianlah Ma'mar membawanya. Aku berkata: Ya. Ia berkata: Sungguh, ia telah menghafalnya. Demikianlah az-Zuhri berkata: Wa laka l-hamd. Aku menghafal bahwa yang terluka adalah sisi kanannya. Ketika kami keluar dari sisi az-Zuhri, Ibnu Juraij berkata – sementara aku berada di sisinya –: “Kaki kanannya yang terluka.”

Bab : Keunggulan sujud.

Diriwayatkan Abu Huraira

Orang-orang berkata, "Wahai Rasulullah! Apakah kami akan melihat Tuhan kami pada Hari Kiamat?" Beliau menjawab, "Apakah kalian ragu melihat bulan purnama pada malam yang cerah (tidak berawan)?" Mereka menjawab, "Tidak, wahai Rasulullah." Beliau bersabda, "Apakah kalian ragu melihat matahari ketika tidak ada awan?" Mereka menjawab tidak. Beliau bersabda, "Kalian akan melihat Allah (Tuhan kalian) dengan cara yang sama. Pada Hari Kiamat, manusia akan dikumpulkan, dan Dia akan memerintahkan manusia untuk mengikuti apa yang biasa mereka sembah. Maka sebagian dari mereka akan mengikuti matahari, sebagian akan mengikuti bulan, dan sebagian akan mengikuti sesembahan lainnya; dan hanya umat ini (kaum Muslimin) yang akan tersisa bersama orang-orang munafiknya. Allah akan datang kepada mereka dan berfirman, "Akulah Tuhan kalian." Mereka akan berkata, "Kami akan tetap di tempat ini sampai Tuhan kami datang kepada kami; dan apabila Tuhan kami datang, kami akan mengenal-Nya." Kemudian Allah akan datang lagi kepada mereka dan berfirman, "Akulah Tuhan kalian." Mereka akan berkata, "Engkau adalah Tuhan kami." Allah akan memanggil mereka, dan Ash-Shirat (sebuah jembatan) akan dibentangkan di atas Neraka, dan aku (Muhammad) akan menjadi orang pertama di antara para Rasul yang menyeberanginya bersama umatku. Tidak ada seorang pun kecuali para Rasul yang dapat berbicara saat itu, dan mereka akan mengucapkan, "Ya Allah! Selamatkanlah kami. Ya Allah, selamatkanlah kami." Di Neraka ada pengait-pengait seperti duri pohon Sa'dan. Pernahkah kalian melihat duri pohon Sa'dan?" Orang-orang menjawab, "Ya." Beliau bersabda, "Pengait-pengait itu seperti duri pohon Sa'dan, tetapi tidak ada yang mengetahui besarnya kecuali Allah, dan pengait itu akan menjerat manusia sesuai dengan amal perbuatan mereka; sebagian dari mereka akan jatuh dan tinggal di Neraka selama-lamanya; sebagian lainnya akan menerima siksaan (tercabik-cabik) dan akan keluar dari Neraka, sampai ketika Allah menghendaki rahmat bagi siapa yang Dia kehendaki di antara penghuni Neraka, Dia memerintahkan para malaikat untuk mengeluarkan dari Neraka orang-orang yang tidak menyembah selain Allah semata. Para malaikat akan mengeluarkan mereka dengan mengenali mereka dari bekas sujud, karena Allah telah mengharamkan api (Neraka) memakan bekas-bekas sujud tersebut. Maka mereka keluar dari api, dan api memakan seluruh tubuh manusia kecuali bekas sujud. Saat itu mereka keluar dari api dalam keadaan seperti tulang belulang. Air Kehidupan akan dituangkan ke atas mereka, dan sebagai hasilnya mereka tumbuh seperti benih yang tumbuh di tepi aliran air.

Kemudian ketika Allah selesai memberikan keputusan di antara makhluk-makhluk-Nya, ada satu orang yang tersisa di antara Neraka dan Surga, dan dia adalah orang terakhir dari penghuni Neraka yang masuk Surga. Dia menghadap ke Neraka dan berkata, "Ya Allah! Palingkanlah wajahku dari api, karena anginnya telah mengeringkanku dan uapnya telah membakarku." Allah akan bertanya kepadanya, "Apakah engkau akan meminta sesuatu yang lain jika kebaikan ini diberikan kepadamu?" Dia menjawab, "Tidak, demi Kekuasaan-Mu." Dan dia akan memberikan kepada Tuhannya (Allah) apa yang Dia kehendaki berupa janji dan perjanjian. Allah kemudian memalingkan wajahnya dari api. Ketika dia menghadap Surga dan melihat pesonanya, dia akan diam selama yang Allah kehendaki. Lalu dia berkata, "Ya Tuhanku! Izinkanlah aku pergi ke pintu Surga." Allah bertanya kepadanya, "Bukankah engkau telah memberikan janji dan membuat perjanjian bahwa engkau tidak akan meminta selain apa yang telah engkau minta sebelumnya?" Dia berkata, "Ya Tuhanku! Janganlah Engkau jadikan aku makhluk-Mu yang paling sengsara." Allah berfirman, "Jika permintaan ini dikabulkan, apakah engkau akan meminta yang lain?" Dia menjawab, "Tidak! Demi Kekuasaan-Mu! Aku tidak akan meminta yang lain." Kemudian dia memberikan kepada Tuhannya apa yang Dia kehendaki berupa janji dan perjanjian. Allah kemudian mengizinkannya pergi ke pintu Surga. Ketika sampai di sana dan melihat kehidupan, pesona, dan kesenangannya, dia diam selama yang Allah kehendaki, kemudian berkata, "Ya Tuhanku! Izinkanlah aku masuk Surga." Allah berfirman, "Semoga Allah merahmati engkau, wahai anak Adam! Betapa khianatnya engkau! Bukankah engkau telah membuat perjanjian dan memberikan janji bahwa engkau tidak akan meminta lebih dari apa yang telah diberikan kepadamu?" Dia berkata, "Ya Tuhanku! Janganlah Engkau jadikan aku makhluk-Mu yang paling sengsara." Maka Allah tertawa dan mengizinkannya masuk Surga dan memintanya untuk meminta sebanyak yang dia suka. Dia pun meminta sampai semua keinginannya terkabul. Kemudian Allah berfirman, "Mintalah lagi hal ini dan itu." Allah mengingatkannya, dan ketika semua keinginan dan cita-citanya telah terkabul, Allah berfirman, "Semua ini diberikan kepadamu dan yang semisal dengannya sebagai tambahan."

Abu Sa'id Al-Khudri berkata kepada Abu Huraira, "Rasulullah (shallallahu 'alaihi wa sallam) bersabda, "Allah berfirman: 'Itu untukmu dan sepuluh kali lipatnya.'" Abu Huraira berkata, "Aku tidak menghafal dari Rasulullah (shallallahu 'alaihi wa sallam) kecuali sabdanya, "Semua ini diberikan kepadamu dan yang semisal dengannya sebagai tambahan." Abu Sa'id berkata, "Aku mendengar beliau bersabda, "Itu untukmu dan sepuluh kali lipatnya.""

Bab : Bab: Hendaknya seseorang menjaga ujung-ujung jari kakinya menghadap kiblat

Bab : Untuk bersujud di atas tujuh tulang

Diriwayatkan Ibnu 'Abbas

Muslim bin Ibrahim menceritakan kepada kami, dia berkata: Syu'bah menceritakan kepada kami, dari 'Amr, dari Tawus, dari Ibnu 'Abbas radhiyallahu 'anhuma, dari Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam, beliau bersabda:

"Kami diperintahkan untuk bersujud di atas tujuh tulang dan tidak menyingsingkan pakaian dan rambut."

Bab : Seseorang tidak boleh menyelipkan rambut [selama Salat (shalat)]

Diriwayatkan Ibnu 'Abbas

Abu an-Nu'man menceritakan kepada kami: Hammad bin Zaid menceritakan kepada kami, dari 'Amr bin Dinar, dari Thawus, dari Ibnu 'Abbas, dia berkata: Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam diperintahkan untuk bersujud di atas tujuh tulang dan tidak boleh menggulung pakaian dan rambutnya.

Bab : Duduk tegak di pembayar Witr (yaitu, Rak'a yang aneh) dan kemudian bangun.

Diriwayatkan Malik bin Huwairith Al-Laithi

Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Shabbah, dia berkata: telah mengabarkan kepada kami Hushaim, dia berkata: telah mengabarkan kepada kami Khalid al-Hadzdza', dari Abu Qilabah, dia berkata: telah mengabarkan kepada kami Malik bin al-Huwairits al-Laitsi, bahwa dia melihat Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam melaksanakan shalat, apabila berada pada rakaat yang ganjil dari shalatnya, beliau tidak berdiri hingga duduk dengan tegak.

Bab : Mengucapkan Takbir tentang bangkit dari dua sujud

Diriwayatkan Mutarrif

Telah menceritakan kepada kami Sulaiman bin Harb, dia berkata: telah menceritakan kepada kami Hammad bin Zaid, dia berkata: telah menceritakan kepada kami Ghailan bin Jarir, dari Mutarrif, dia berkata: Aku pernah shalat bersama 'Imran di belakang 'Ali bin Abi Thalib radhiyallahu 'anhu. Apabila sujud dia bertakbir, apabila bangkit dia bertakbir, dan apabila berdiri dari dua rakaat dia bertakbir. Ketika selesai salam, 'Imran memegang tanganku dan berkata: “Dia telah shalat bersama kami dengan shalatnya Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam”, atau dia berkata: “Dia telah mengingatkanku akan shalatnya Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam”.

Bab : Sunnah Nabi (jalan yang sah) untuk duduk di Tashah-hud [dalam Salat (shalat)].

Diriwayatkan Muhammad bin 'Amr bin 'Ata'

Aku duduk bersama beberapa sahabat Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam dan kami sedang membicarakan tentang cara salat Nabi. Abu Humaid As-Sa'idi berkata, “Aku lebih hafal salat Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam daripada kalian semua. Aku melihat beliau mengangkat kedua tangannya setinggi pundak ketika bertakbir; dan ketika rukuk, beliau meletakkan kedua tangannya di atas kedua lutut dan meluruskan punggungnya, kemudian beliau berdiri tegak dari rukuk hingga semua tulang belakang kembali ke tempatnya. Ketika sujud, beliau meletakkan kedua tangannya di tanah dengan lengan menjauh dari tanah dan dari tubuhnya, dan ujung-ujung jari kakinya menghadap kiblat. Ketika duduk pada rakaat kedua, beliau duduk di atas kaki kirinya dan menegakkan kaki kanannya; dan pada rakaat terakhir, beliau majukan kaki kirinya dan menegakkan kaki yang lain lalu duduk di atas bokongnya.”

Bab : Pembacaan Al-Qur'an dalam shalat Subuh

Diriwayatkan Saiyar bin Salama

Ayahku dan aku pergi menemui Abu Barza al-Aslami dan bertanya kepadanya tentang waktu-waktu salat. Dia menjawab, “Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa melaksanakan salat Zuhur ketika matahari condong ke barat; salat Asar ketika seorang laki-laki kembali ke tempat yang paling jauh di Madinah (setelah salat) dan matahari masih panas (terang). (Perawi berkata: Aku lupa apa yang dikatakan Abu Barza tentang salat Magrib.) Beliau tidak keberatan mengakhirkan salat Isya hingga sepertiga malam, dan beliau tidak suka tidur sebelum salat Isya dan berbincang-bincang setelahnya. Beliau salat Subuh lalu seorang laki-laki pergi dan mengenali teman duduknya, dan beliau membaca antara enam puluh hingga seratus ayat dalam dua rakaat atau salah satunya.”

Diriwayatkan Abu Huraira

Musaddad menceritakan kepada kami, dia berkata: Isma'il bin Ibrahim menceritakan kepada kami, dia berkata: Ibnu Juraij mengabarkan kepada kami, dia berkata: 'Atha' mengabarkan kepadaku bahwa dia mendengar Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu berkata:

Pada setiap salat dibacakan (Al-Qur'an). Apa yang Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam perdengarkan kepada kami, kami perdengarkan kepada kalian; dan apa yang beliau sembunyikan dari kami, kami sembunyikan dari kalian. Jika kamu hanya membaca Ummul Qur'an (Al-Fatihah), maka itu mencukupi; dan jika kamu menambah, maka itu lebih baik.