'Umar mendekati Batu Hitam dan menciumnya dan berkata, "Tidak diragukan lagi, aku tahu bahwa kamu adalah batu dan tidak dapat menguntungkan siapa pun atau menyakiti siapa pun. Seandainya aku tidak melihat Rasulullah (صلى الله عليه وسلم) menciummu, aku tidak akan menciummu."
Tafsir Hadis Sahih al-Bukhari 1597
Narasi ini dari bab Haji dalam Sahih al-Bukhari menyajikan kebijaksanaan mendalam Sayyiduna `Umar ibn al-Khattab (semoga Allah meridhainya) mengenai ritual mencium Batu Hitam (al-Hajar al-Aswad).
Sifat-Sifat Ibadah
Pernyataan `Umar menunjukkan prinsip Islam bahwa ibadah pada dasarnya didasarkan pada instruksi ilahi (tawqifiyyah), bukan hanya penalaran manusia. Meskipun akal mungkin tidak memahami kebijaksanaan di balik ritual tertentu, seorang Muslim tunduk pada perintah Allah yang disampaikan melalui Nabi (ﷺ).
Klariasinya bahwa Batu itu tidak dapat memberikan manfaat maupun bahaya menegaskan doktrin Islam tentang tauhid - bahwa semua kekuatan milik Allah semata. Benda ciptaan tidak memiliki kekuatan bawaan, dan ibadah diarahkan hanya kepada Sang Pencipta.
Mengikuti Teladan Kenabian
Alasan utama `Umar memberikan untuk mencium Batu adalah kesaksiannya terhadap Rasulullah (ﷺ) melakukannya. Ini menetapkan otoritas tertinggi Sunnah dalam praktik Islam. Komunitas Muslim mengikuti contoh Nabi dalam hal ibadah, terlepas dari apakah kebijaksanaan yang mendasarinya jelas bagi pemahaman manusia.
Insiden ini dengan indah menggambarkan keseimbangan antara keyakinan intelektual dan ketundukan yang taat yang menjadi ciri iman para sahabat.
Komentar Ilmiah
Ulama klasik seperti Ibn Hajar al-Asqalani menjelaskan bahwa `Umar membuat deklarasi ini untuk mendidik masyarakat dan mencegah kesalahpahaman potensial yang dapat menyebabkan syirik (menyekutukan Allah). Kata-katanya melindungi kemurnian tauhid sambil secara bersamaan menegaskan kewajiban untuk mengikuti tradisi Kenabian.
Batu Hitam berfungsi sebagai titik awal untuk tawaf (mengelilingi Ka'bah) dan menciumnya adalah tindakan sunnah yang memperingati sejarah mulia batu yang berasal dari zaman Nabi Ibrahim dan Ismail, semoga kedamaian atas mereka berdua.