Rasulullah (صلى الله عليه وسلم) bersabda, "Atap rumahku dibuka saat aku berada di Makkah (pada malam Mi'raj) dan Jibril turun. Dia membuka dada saya dan mencucinya dengan air Zamzam. Dia membawa nampan emas yang penuh dengan Kebijaksanaan dan Keyakinan dan menuangkannya ke dada saya dan kemudian menutupnya. Dia memegang tanganku dan naik ke langit terdekat. Jibril menyuruh penjaga gerbang surga terdekat untuk membuka gerbang. Penjaga gerbang bertanya, "Siapa itu?" Jibril menjawab, "Saya Jibril." (Lihat Hadis No. 349 Vol.1)
Komentar Hadis: Pembukaan Dada
Narasi ini dari Sahih al-Bukhari 1636 menggambarkan pemurnian spiritual yang mendalam yang mendahului kenaikan langit Nabi (al-Mi'raj). Para ulama menjelaskan bahwa pembukaan dada melambangkan pemurnian hati dari keterikatan duniawi, mempersiapkannya untuk menerima wahyu ilahi. Pencucian dengan air Zamzam menandakan pembersihan fisik dan spiritual, karena Zamzam adalah air berkah yang memancar dari rahmat ilahi.
Nampan emas yang berisi Kebijaksanaan (Hikmah) dan Kepercayaan (Iman) mewakili penanaman pengetahuan kenabian dan iman yang tak tergoyahkan langsung dari alam ilahi. Komentator klasik mencatat bahwa peristiwa ini menetapkan kesempurnaan spiritual Nabi sebelum pertemuannya dengan realitas yang lebih tinggi, menunjukkan bahwa pengetahuan dan iman sejati berasal dari karunia Allah daripada perolehan manusia.
Signifikansi Kenaikan ke Langit
Kenaikan melalui langit menggambarkan status unik Nabi di antara ciptaan. Ketika Jibril mengidentifikasi dirinya di gerbang langit pertama, hal ini menetapkan protokol untuk masuk ke langit - bahkan malaikat harus mengidentifikasi diri mereka sendiri. Ini menekankan kesucian dan tatanan alam langit.
Para ulama tafsir menghubungkan peristiwa ini dengan ayat-ayat Al-Qur'an yang mengisyaratkan Perjalanan Malam, mencatat bahwa dimensi fisik dan spiritual dari perjalanan ini menunjukkan sifat kenabian yang komprehensif. Peristiwa ini berfungsi sebagai fondasi bagi kosmologi Islam dan pemahaman misi kenabian.
Pelajaran Spiritual bagi Orang Beriman
Hadis ini mengajarkan bahwa kemajuan spiritual memerlukan pemurnian ilahi sebelum menerima pengetahuan yang lebih tinggi. Penggunaan air Zamzam menghubungkan tindakan ibadah sehari-hari dengan realitas spiritual yang mendalam, mengingatkan jamaah haji akan sejarah suci yang tertanam dalam ritual Haji.
Sifat berurutan dari perjalanan - pemurnian, kemudian penanaman pengetahuan, kemudian kenaikan - memberikan model untuk pengembangan spiritual. Para komentator mencatat bahwa meskipun peristiwa spesifik ini unik bagi Nabi, prinsip-prinsip pemurnian yang mendahului pencerahan berlaku bagi semua orang beriman yang mencari kedekatan dengan Allah.