Keutamaan Qul-Huwa Allahu Ahad (Surat Al-Ikhlas) (No.112) Sahih al-Bukhari 5013

Teks hadis bahasa Arab
حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ يُوسُفَ، أَخْبَرَنَا مَالِكٌ، عَنْ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ أَبِي صَعْصَعَةَ، عَنْ أَبِيهِ، عَنْ أَبِي سَعِيدٍ الْخُدْرِيِّ، أَنَّ رَجُلاً، سَمِعَ رَجُلاً، يَقْرَأُ ‏‏{‏قُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ‏}‏ يُرَدِّدُهَا فَلَمَّا أَصْبَحَ جَاءَ إِلَى رَسُولِ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم فَذَكَرَ ذَلِكَ لَهُ وَكَأَنَّ الرَّجُلَ يَتَقَالُّهَا فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم ‏"‏ وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ إِنَّهَالَتَعْدِلُ ثُلُثَ الْقُرْآنِ ‏"‏‏.‏
Terjemahan
Diriwayatkan oleh Abu Said Al-Khudri

Seorang laki-laki mendengar laki-laki lain membaca (Surat Al-Ikhlas) 'Katakanlah bahwa Dialah Allah yang Maha Esa.' (112. 1) berulang-ulang. Keesokan paginya, ia datang kepada Rasulullah ( ﷺ ) dan memberitahukan kepadanya tentang hal itu seolah-olah ia merasa bahwa membaca surat itu saja tidak cukup. Mendengar itu, Rasulullah ( ﷺ ) berkata, "Demi Dzat yang jiwaku berada di tangan-Nya, sesungguhnya surat ini setara dengan sepertiga Al-Qur'an!"

Komentar

Kelebihan Al-Qur'an - Sahih al-Bukhari 5013

Narasi ini dari Sahih al-Bukhari menyoroti keutamaan besar Surah Al-Ikhlas, menunjukkan bagaimana seorang sahabat awalnya meremehkan signifikansinya, hanya untuk dikoreksi oleh Nabi Muhammad (ﷺ) sendiri.

Komentar Ilmiah

Keraguan awal sahabat mencerminkan sifat manusia, di mana kuantitas kadang-kadang secara keliru dihargai lebih dari kualitas dalam ibadah. Sumpah tegas Nabi "Demi Dia yang di Tangan-Nya nyawaku" menekankan kepastian mutlak dan pentingnya deklarasi ini.

Para ulama menjelaskan bahwa Surah Al-Ikhlas setara dengan sepertiga Al-Qur'an karena secara komprehensif menetapkan Tauhid (Keesaan Ilahi) - pesan fundamental dari semua wahyu. Sama seperti Al-Qur'an terutama membahas tiga tema: Tauhid, legislasi, dan narasi, surah ini dengan sempurna merangkum esensi Tauhid.

Ibn Abbas (semoga Allah meridhainya) menyatakan: "Ketika Nabi (ﷺ) mengatakan itu setara dengan sepertiga Al-Qur'an, beliau maksudkan dalam pahala, bukan bahwa itu menggantikan pembacaan bagian lain." Pemahaman ini mempertahankan status khusus Al-Ikhlas sambil mempertahankan kewajiban untuk terlibat dengan seluruh Al-Qur'an.

Implikasi Praktis

Hadis ini mengajarkan kita bahwa nilai pembacaan terletak bukan pada panjangnya tetapi pada pemahaman makna mendalam yang terkandung dalam bagian-bagian singkat. Ini mendorong Muslim untuk merenungkan secara mendalam makna surah-surah pendek daripada hanya mengejar pembacaan panjang tanpa perenungan.

Insiden ini juga menunjukkan etika yang tepat dalam mencari ilmu - ketika ragu tentang masalah agama, seseorang harus merujuk ke sumber otentik daripada mengandalkan pendapat pribadi.