Sahih al-Bukhari

Sahih al-Bukhari 3490

Bab: Firman Allah Ta'ala: {Wahai manusia! Sungguh, Kami telah menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan, kemudian Kami menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal. Sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa.}
Teks hadis bahasa Arab
حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ بَشَّارٍ، حَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ سَعِيدٍ، عَنْ عُبَيْدِ اللَّهِ، قَالَ حَدَّثَنِي سَعِيدُ بْنُ أَبِي سَعِيدٍ، عَنْ أَبِيهِ، عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ ـ رضى الله عنه ـ قَالَ قِيلَ يَا رَسُولَ اللَّهِمَنْ أَكْرَمُ النَّاسِ قَالَ ‏"‏ أَتْقَاهُمْ ‏"‏‏.‏ قَالُوا لَيْسَ عَنْ هَذَا نَسْأَلُكَ‏.‏ قَالَ ‏"‏ فَيُوسُفُ نَبِيُّ اللَّهِ ‏"
Terjemahan
Diriwayatkan oleh Ibnu Abbas

Khalid bin Yazid al-Kahili menceritakan kepada kami, Abu Bakar menceritakan kepada kami, dari Abu Hushain, dari Sa'id bin Jubair, dari Ibnu Abbas – radhiyallahu 'anhuma:

{Dan Kami menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku}

Dia berkata, “Bangsa-bangsa adalah suku-suku besar, dan suku-suku adalah anak suku (clan).”

Komentar

Kebajikan dan Keutamaan Nabi (saw) dan Para Sahabatnya

Sahih al-Bukhari - Hadis 3490

Teks Hadis

Suatu kali Rasulullah (ﷺ) ditanya, "Siapakah orang yang paling terhormat di antara manusia?" Beliau berkata, "Yang paling bertakwa (yaitu takut kepada Allah) di antara kalian." Mereka berkata, "Kami tidak menanyakan tentang ini." Beliau berkata, "Maka Yusuf, nabi Allah."

Komentar Ilmiah

Jawaban awal Nabi menetapkan prinsip dasar Islam bahwa kehormatan sejati tidak terletak pada keturunan atau status duniawi, tetapi pada taqwa (kesadaran akan Tuhan). Ini sejalan dengan Quran 49:13: "Sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah adalah yang paling bertakwa di antara kamu."

Ketika para penanya mencari individu tertentu, Nabi menyebut Nabi Yusuf, menyoroti kebajikan luar biasanya: imannya yang teguh selama cobaan, kesuciannya ketika dicobai, kebijaksanaan administratifnya, dan pengampunannya terhadap saudara-saudaranya. Ini mengajarkan kita bahwa meskipun kesalehan adalah kriteria umum untuk kehormatan, nabi-nabi tertentu memiliki keutamaan unik yang meningkatkan status mereka.

Jawaban tersebut menunjukkan kebijaksanaan pedagogis Nabi - pertama menetapkan prinsip universal, kemudian memberikan contoh spesifik ketika klarifikasi lebih lanjut diminta.