حَدَّثَنَا مُسَدَّدٌ، حَدَّثَنَا حَمَّادٌ، عَنْ عَبْدِ الْعَزِيزِ، عَنْ أَنَسٍ، وَعَنْ يُونُسَ، عَنْ ثَابِتٍ، عَنْ أَنَسٍ ـ رضى الله عنه ـ قَالَ أَصَابَ أَهْلَ الْمَدِينَةِ قَحْطٌ عَلَى عَهْدِ رَسُولِ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم، فَبَيْنَا هُوَ يَخْطُبُ يَوْمَ جُمُعَةٍ إِذْ قَامَ رَجُلٌ فَقَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِهَلَكَتِ الْكُرَاعُ، هَلَكَتِ الشَّاءُ، فَادْعُ اللَّهَ يَسْقِينَا، فَمَدَّ يَدَيْهِ وَدَعَا‏.‏ قَالَ أَنَسٌ وَإِنَّ السَّمَاءَ لَمِثْلُ الزُّجَاجَةِ فَهَاجَتْ رِيحٌ أَنْشَأَتْ سَحَابًا ثُمَّ اجْتَمَعَ، ثُمَّ أَرْسَلَتِ السَّمَاءُ عَزَالِيَهَا، فَخَرَجْنَا نَخُوضُ الْمَاءَ حَتَّى أَتَيْنَا مَنَازِلَنَا، فَلَمْ نَزَلْ نُمْطَرُ إِلَى الْجُمُعَةِ الأُخْرَى، فَقَامَ إِلَيْهِ ذَلِكَ الرَّجُلُ ـ أَوْ غَيْرُهُ ـ فَقَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ، تَهَدَّمَتِ الْبُيُوتُ، فَادْعُ اللَّهَ يَحْبِسْهُ‏.‏ فَتَبَسَّمَ ثُمَّ قَالَ ‏"‏ حَوَالَيْنَا وَلاَ عَلَيْنَا ‏"‏‏.‏ فَنَظَرْتُ إِلَى السَّحَابِ تَصَدَّعَ حَوْلَ الْمَدِينَةِ كَأَنَّهُ إِكْلِيلٌ‏.‏
Terjemahan
Diriwayatkan oleh Imran bin Husain

Mereka pernah bersama Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam dalam suatu perjalanan. Mereka berjalan pada malam hari hingga ketika masuk waktu sahur, mereka berhenti untuk beristirahat. Kantuk menguasai mereka hingga matahari terbit. Orang yang pertama kali terbangun dari tidurnya adalah Abu Bakar. Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam tidak dibangunkan dari tidurnya, tetapi beliau bangun sendiri. Maka 'Umar terbangun, lalu Abu Bakar duduk di dekat kepalanya sambil bertakbir dan mengeraskan suaranya, hingga Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam terbangun. Beliau turun dan salat Subuh bersama kami. Seorang laki-laki dari kaum itu menjauh dan tidak salat bersama kami. Setelah selesai, beliau bersabda, “Wahai si fulan, apa yang menghalangimu untuk salat bersama kami?” Dia menjawab, “Aku terkena junub.” Maka beliau memerintahkannya untuk tayamum dengan debu yang suci, kemudian dia salat.

Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam menjadikanku di hadapannya di atas tunggangan. Kami merasa sangat haus. Ketika kami sedang berjalan, tiba-tiba kami bertemu dengan seorang wanita yang menjulurkan kedua kakinya di antara dua mazadah. Kami bertanya kepadanya, “Di mana air?” Dia menjawab, “Tidak ada air.” Kami bertanya, “Berapa jarak antara keluargamu dan air?” Dia menjawab, “Satu hari satu malam.” Kami berkata, “Pergilah kepada Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam.” Dia berkata, “Apa itu Rasulullah?” Kami tidak membiarkan urusannya (keputusannya) sampai kami menghadapkannya kepada Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam. Maka dia menceritakan kepada beliau seperti yang dia ceritakan kepada kami, hanya saja dia memberitahukan bahwa dia adalah seorang ibu yang memiliki anak yatim. Beliau memerintahkan (untuk membawa) kedua mazadahnya, lalu beliau mengusap kedua mulut mazadah tersebut. Maka kami, empat puluh orang yang kehausan, minum sampai puas. Kami mengisi setiap geriba dan bejana yang kami miliki, hanya saja kami tidak memberi minum unta. Kedua mazadah itu hampir pecah karena penuh.

Kemudian beliau bersabda, “Bawalah apa yang ada pada kalian.” Maka dikumpulkan untuknya potongan-potongan roti dan kurma, hingga dia sampai kepada keluarganya. Dia berkata, “Aku bertemu dengan manusia yang paling pandai menyihir, atau dia adalah seorang nabi sebagaimana yang mereka klaim.” Maka Allah memberi petunjuk kepada kabilah itu melalui wanita tersebut: dia masuk Islam dan mereka pun masuk Islam.

Comment

Kebajikan dan Jasa Nabi (saw) dan Para Sahabatnya

Sahih al-Bukhari - Hadis 3582

Konteks Sejarah

Insiden ini terjadi selama kekeringan parah di Madinah ketika tanaman layu dan ternak mati karena kurangnya hujan, menunjukkan ketergantungan komunitas pada intervensi ilahi selama masa krisis.

Perantaraan Kenabian

Tanggapan langsung Nabi terhadap permintaan menunjukkan perannya sebagai perantara bagi komunitasnya. Pengangkatannya kedua tangan menunjukkan cara yang tepat untuk doa yang sungguh-sungguh, mengajarkan umat Islam etika doa selama masa kebutuhan.

Tanggapan Ajaib

Jawaban langsung atas doa Nabi, dengan awan terbentuk dari langit yang cerah, berfungsi sebagai bukti jelas status khususnya dengan Allah dan keaslian kenabiannya.

Keseimbangan Ilahi

Ketika hujan berlebihan mengancam kehancuran, senyuman Nabi dan tanggapan yang terukur "di sekitar kita dan bukan pada kita" menunjukkan prinsip-prinsip Islam tentang moderasi dan mencari berkah yang seimbang dari Allah.

Pelajaran Spiritual

Riwayat ini mengajarkan pentingnya berpaling kepada Allah dalam segala keadaan, kekuatan doa yang tulus, dan kebijaksanaan dalam mencari rezeki yang moderat daripada ekstrem yang dapat menyebabkan bahaya.