حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ حَاتِمِ بْنِ بَزِيعٍ، حَدَّثَنَا شَاذَانُ، عَنْ شُعْبَةَ، عَنْ أَبِي جَمْرَةَ، قَالَ سَأَلْتُ عَائِذَ بْنَ عَمْرٍو ـ رضى الله عنه ـ وَكَانَ مِنْ أَصْحَابِ النَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم مِنْ أَصْحَابِ الشَّجَرَةِهَلْ يُنْقَضُ الْوِتْرُ قَالَ إِذَا أَوْتَرْتَ مِنْ أَوَّلِهِ، فَلاَ تُوتِرْ مِنْ آخِرِهِ‏.‏
Terjemahan
Narasi Abu Jamra

Saya bertanya kepada Aidh bin 'Amr, yang merupakan salah satu sahabat Nabi (ﷺ) salah satu dari mereka (yang memberikan kesetiaan kepada Nabi (ﷺ) Pohon: “Dapatkah shalat witir diulang (dalam satu malam)?” Dia berkata, “Jika kamu telah mempersembahkannya di bagian pertama malam, kamu tidak boleh mengulanginya di bagian akhir malam.” (Lihat Fathul-Bari halaman 458 Jilid ke-8).