Sahih al-Bukhari
Sahih al-Bukhari 3465
Rasulullah (ﷺ) bersabda: "Ketika tiga orang dari umat sebelum kalian sedang berjalan, tiba-tiba mereka kehujanan. Mereka berlindung di dalam sebuah gua, lalu gua itu tertutup batu besar. Sebagian mereka berkata kepada yang lain: 'Demi Allah, wahai kalian, tidak ada yang dapat menyelamatkan kalian kecuali kejujuran. Maka hendaknya setiap orang dari kalian berdoa dengan menyebut amalan yang dia yakini telah dia lakukan dengan tulus.'
Maka salah seorang di antara mereka berkata: "Ya Allah, sesungguhnya Engkau mengetahui bahwa aku memiliki seorang pekerja yang bekerja untukku dengan upah satu faraq beras. Dia pergi dan meninggalkannya. Aku mengurus faraq itu lalu menanamnya, sehingga dari hasilnya aku membeli sapi. Kemudian dia datang kepadaku meminta upahnya. Aku berkata: 'Pergilah kepada sapi-sapi itu dan bawalah mereka.' Dia berkata kepadaku: 'Sesungguhnya yang menjadi hakku darimu hanyalah satu faraq beras.' Aku berkata kepadanya: 'Pergilah kepada sapi-sapi itu, karena itu adalah dari faraq tersebut.' Maka dia membawanya. Jika Engkau mengetahui bahwa aku melakukan itu karena takut kepada-Mu, maka berilah kami jalan keluar." Maka batu itu bergeser dari mereka.
Orang kedua berkata: "Ya Allah, Engkau mengetahui bahwa aku memiliki kedua orang tua yang sudah sangat tua. Setiap malam aku memberi mereka susu kambingku. Suatu malam aku terlambat, lalu aku datang dan keduanya telah tidur, sementara istriku dan anak-anakku menangis karena lapar. Aku tidak memberi mereka minum sebelum kedua orang tuaku minum. Aku tidak suka membangunkan mereka dan tidak suka membiarkan mereka tanpa minuman. Maka aku terus menunggu hingga fajar menyingsing. Jika Engkau mengetahui bahwa aku melakukan itu karena takut kepada-Mu, maka berilah kami jalan keluar." Maka batu itu bergeser sehingga mereka dapat melihat langit.
Orang ketiga berkata: "Ya Allah, Engkau mengetahui bahwa aku memiliki seorang anak perempuan pamanku (sepupu) yang paling aku cintai di antara manusia. Aku menginginkannya, tetapi dia menolak kecuali aku memberinya seratus dinar. Aku mengumpulkannya hingga aku mampu, lalu aku datang dengan membawanya dan memberikannya kepadanya. Dia pun mengizinkan aku terhadap dirinya. Ketika aku duduk di antara kedua kakinya, dia berkata: 'Bertakwalah kepada Allah dan janganlah engkau membuka cincin (kehormatan) kecuali dengan haknya.' Maka aku berdiri dan meninggalkan seratus dinar itu. Jika Engkau mengetahui bahwa aku melakukan itu karena takut kepada-Mu, maka berilah kami jalan keluar." Maka Allah memberikan jalan keluar bagi mereka dan mereka keluar dari gua."
Hadits Tiga Orang di Gua
Sahih al-Bukhari 3465 - Kitab Nabi-Nabi
Konteks dan Signifikansi
Narasi yang mendalam ini menggambarkan bagaimana perbuatan ikhlas yang dilakukan murni untuk keridhaan Allah dapat menjadi sarana keselamatan bahkan dalam situasi yang tampaknya putus asa. Ketiga individu, terperangkap oleh batu besar, menyadari bahwa hanya kejujuran di hadapan Allah yang dapat menyelamatkan mereka.
Komentar Ulama: Perbuatan Pria Pertama
Pria pertama menunjukkan kejujuran luar biasa dalam urusan bisnis. Para ulama mencatat bahwa dia melampaui kewajiban semata dengan memberikan buruh bukan hanya upah asli tetapi juga keuntungan yang berlipat. Ini mencontohkan prinsip Islam amānah (dapat dipercaya) dalam urusan keuangan. Ketakutannya bukan pada pertanggungjawaban duniawi tetapi pada perhitungan ilahi.
Komentar Ulama: Perbuatan Pria Kedua
Kisah pria kedua menekankan birr al-wālidayn (berbakti kepada orang tua). Komentator klasik menyoroti bagaimana dia mengutamakan kenyamanan orang tuanya daripada kelaparan keluarganya sendiri, mempertahankan pengabdian ini sepanjang malam. Ini menggambarkan status tertinggi orang tua dalam Islam dan pahala untuk ketaatan yang sabar kepada mereka.
Komentar Ulama: Perbuatan Pria Ketiga
Kisah pria ketiga menunjukkan tawbah (pertobatan) yang kuat. Para ulama menjelaskan bahwa meskipun berada pada saat dosa, dia meninggalkan keinginannya ketika diingatkan akan takut kepada Allah. Meninggalkan uangnya menunjukkan pemutusan total dari niat berdosa. Ini mengajarkan bahwa pertobatan yang tulus dapat menghapus dosa besar.
Pelajaran Hukum dan Spiritual
Para ahli hukum menyimpulkan dari hadits ini bahwa memohon kepada Allah melalui perbuatan baik diperbolehkan. Pergerakan batu yang bertahap menunjukkan berbagai tingkat penerimaan perbuatan. Narasi pada akhirnya mengajarkan bahwa ikhlāṣ (keikhlasan) mengubah tindakan biasa menjadi sarana intervensi ilahi dan keselamatan.